Sumbawanews.com,- Presiden Amerika Serikat Donald Trump merayakan ulang tahunnya yang ke-80 dengan sebuah pesta besar yang tak biasa: pertandingan Ultimate Fighting Championship (UFC) di halaman belakang Gedung Putih. Acara yang digelar pada Minggu, 14 Juni 2026, itu bukan sekadar perayaan pribadi—ia menjadi fenomena nasional yang menelan biaya lebih dari US$60 juta atau sekitar Rp1,68 triliun.
Dokumen pengadilan yang diajukan pemerintahan Trump mengungkapkan bahwa anggaran besar itu mencakup pembangunan ring oktagon seberat 600 ton, setinggi lebih dari bangunan utama Gedung Putih, serta penyediaan makanan segar untuk lebih dari 120.000 tamu yang diprediksi memadati South Lawn dan Ellipse. Sebanyak 75.000 tiket telah terjual sebelum acara berlangsung, dengan puluhan ribu lainnya diperkirakan hadir tanpa tiket.
Direktur Manajemen dan Administrasi Gedung Putih, Joshua Fisher, menjelaskan bahwa UFC sebagai penyelenggara bertanggung jawab atas produksi, konstruksi, dan promosi acara. Sementara pemerintah federal menyediakan layanan keamanan, medis, dan penegakan hukum—dengan ratusan agen Secret Service dikerahkan untuk mengamankan lokasi dan sekitarnya.
Kontroversi pun tak terhindarkan. Kritikus menilai acara ini sebagai pemanfaatan fasilitas publik untuk kepentingan pribadi dan bisnis sekutu Trump. Sejumlah aktivis dan ahli hukum mempertanyakan batas antara perayaan kepala negara dan penggunaan sumber daya negara demi keuntungan komersial. Di tengah ketegangan geopolitik dengan Iran dan isu deportasi massal yang sedang digaungkan, pesta UFC ini justru menjadi sorotan utama media internasional.
Namun, bagi pendukung Trump, acara itu adalah simbol keberanian dan keunikan gaya kepemimpinannya—menggabungkan hiburan, kekuasaan, dan popularitas dalam satu momen yang tak terlupakan. Ribuan penonton yang memadati halaman Gedung Putih, dengan latar belakang lampu sorot dan sorak-sorai, menjadi gambaran nyata: di bawah kepemimpinan Trump, bahkan pertarungan di ring pun bisa menjadi simbol negara.
Acara itu berlangsung tanpa insiden besar. Namun, jejaknya kemungkinan akan bertahan lama—bukan hanya dalam catatan biaya, tapi dalam diskusi mendalam tentang etika kekuasaan, publik, dan perayaan di era modern.

















