Home Berita Nasional Tiga Santri Dibakar Sesama Teman, Satu Tewas di Lombok Tengah

Tiga Santri Dibakar Sesama Teman, Satu Tewas di Lombok Tengah

Sumbawanews.com,- Tiga santri di sebuah pondok pesantren di Kecamatan Batukliang, Lombok Tengah, menjadi korban kekerasan brutal yang diduga dilakukan oleh sesama teman sepondok. Satu di antaranya tewas akibat luka bakar parah, sementara dua lainnya mengalami luka serius setelah disiram bahan bakar dan dibakar. Kejadian yang terjadi pada November 2025 itu baru terungkap setelah video korban yang masih terluka dan menangis kesakitan beredar luas di media sosial.

Dalam rekaman yang diunggah akun Facebook @Tiara Erna BenKinara Cahya, terlihat seorang korban dengan perban membungkus sebagian tubuhnya, meraung kesakitan sambil memegangi kaki dan dada. Suara keluarga terdengar menenangkan di latar belakang. Video tersebut telah ditonton lebih dari 65 ribu kali, dibagikan 307 kali, dan dikomentari ratusan warganet yang gempar atas kekejaman yang terjadi di lingkungan yang seharusnya menjadi tempat pendidikan moral.

Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Mataram, Joko Jumadi, membenarkan kejadian tersebut. Ia mengatakan, pihaknya baru mengetahui kasus ini setelah video viral, meski peristiwa itu terjadi tujuh bulan lalu. “Kami langsung melakukan penelusuran. Ada tiga korban: satu meninggal, dua luka bakar berat. Ini bukan sekadar kekerasan, tapi kegagalan sistem perlindungan di lingkungan pesantren,” ujar Joko, Rabu (3/6).

LPA kini bekerja sama dengan kepolisian untuk mengungkap kronologi lengkap, termasuk identitas pelaku, motif, dan kondisi korban saat kejadian. Informasi awal menyebut pelaku adalah sesama santri yang bertindak atas dendam atau konflik pribadi, namun belum ada konfirmasi resmi.

Polres Lombok Tengah baru menerima laporan resmi dari orang tua korban pada Senin (2/6). Kasatreskrim AKP Punguan Hutahaean mengatakan, pihaknya telah memulai penyelidikan dengan memeriksa sejumlah saksi yang menyaksikan atau mengetahui peristiwa itu. “Orang tua korban akan datang hari ini untuk memberikan keterangan resmi. Kami juga sedang mengamankan bukti-bukti fisik dan rekaman lain yang mungkin ada di lingkungan pesantren,” ujarnya.

Kasus ini memperburuk citra sejumlah lembaga pendidikan agama yang kerap menjadi sorotan akibat praktik kekerasan tersembunyi. Sebelumnya, kasus sodomi guru terhadap santri di Lombok dan dugaan pencabulan di ponpes Ponorogo dan Pekalongan juga mencuat, menunjukkan pola sistemik yang belum ditangani secara serius.

Masyarakat sipil dan aktivis hak anak mendesak pemerintah provinsi NTB segera membentuk tim independen untuk mengaudit seluruh pesantren di wilayahnya. “Ini bukan lagi kasus individu. Ini adalah sistem yang gagal melindungi anak-anak yang dikirim ke pesantren dengan harapan aman dan dijaga,” kata seorang aktivis HAM dari Jakarta yang meminta tidak disebutkan namanya.

Hingga kini, jenazah korban yang tewas telah dimakamkan, sementara dua korban selamat masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Polisi belum menetapkan tersangka, namun sumber internal mengatakan pelaku utama telah diidentifikasi dan sedang dalam proses pendalaman.

Previous articlePrabowo Larang Telur Dadar di Menu MBG
Next articleNomad Gelar Diskon Besar-Besaran untuk Aksesori Teknologi
Avatar photo
Kami adalah Jurnalis Jaringan Sumbawanews, individu idealis yang ingin membangun jurnalistik sehat berdasarkan UU No.40 Tahun 1999 tentang PERS, dan UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dalam menjalankan Tugas Jurnalistik, kami sangat menjunjung tinggi kaidah dan Kode Etik Jurnalistik, dengan Ethos Kerja, Koordinasi, Investigasi, dan Verifikasi sebelum mempublikasikan suatu artikel, opini, dan berita, sehingga menjadi suatu informasi yang akurat, baik dalam penulisan kata, maupun penggunaan tatabahasa.