Sumbawanews.com,- Pada 15 Agustus 1914, Terusan Panama secara resmi dibuka untuk lalu lintas maritim, menghubungkan Samudra Atlantik dan Pasifik melalui Tanah Genting Panama. Kapal kargo dan penumpang AS, Ancon, menjadi kapal pertama yang melintasi kanal ini. Proyek raksasa yang memakan waktu lebih dari satu dekade itu dimulai setelah Amerika Serikat mengambil alih pembangunan dari perusahaan Prancis yang bangkrut pada 1889, setelah gagal mengatasi wabah penyakit dan masalah keuangan. AS memperoleh kendali atas wilayah terusan setelah mendukung kemerdekaan Panama dari Kolombia pada 1903, lalu menandatangani Perjanjian Hay-Bunau-Varilla yang memberikan hak penguasaan permanen atas Zona Terusan Panama. Dengan biaya hampir US$400 juta dan pemindahan 183,5 juta meter kubik tanah, kanal sepanjang 64,3 kilometer itu akhirnya selesai dibangun dengan sistem pintu air, mengubah rute perdagangan global selama lebih dari seabad.
Pembangunan terusan ini dipicu kebutuhan AS untuk memindahkan kapal perang dan dagang secara cepat antara dua samudra, terutama setelah perang Spanyol-Amerika memperluas kekuasaan luar negerinya. Sebelumnya, jalur kereta api yang dibangun pada 1855 menjadi solusi sementara, namun tidak memadai untuk kebutuhan militer dan komersial yang terus meningkat. Setelah kemerdekaan Panama, AS membangun fasilitas konstruksi dan memberantas penyakit tropis selama tiga tahun sebelum pekerjaan fisik dimulai pada 1909. Perjanjian yang mengatur penguasaan AS atas terusan itu kemudian dikritik oleh warga Panama sebagai pelanggaran kedaulatan. Pada 1977, Presiden AS Jimmy Carter dan diktator Panama Omar Torrijos menandatangani perjanjian penyerahan terusan, yang berakhir dengan transfer penuh kekuasaan kepada Panama pada 31 Desember 1999.















