Sumbawanews.com,- Peneliti menguji kombinasi dua obat lama—chlorpromazine dan promethazine—pada 32 pasien stroke iskemik akut untuk memicu kondisi mirip hipotermia otak, yang dikenal sebagai “brain freeze”. Hasil uji coba yang dipublikasikan dalam jurnal *Science Translational Medicine* pada 29 Juni 2026 menunjukkan, terapi bernama C+P itu aman dan mampu menurunkan suhu tubuh pasien dalam empat jam tanpa efek samping serius.
Meski tidak menimbulkan reaksi berbahaya, terapi ini belum membuktikan peningkatan signifikan dalam pemulihan fungsi otak. Pasien yang menerima dosis tertinggi menunjukkan penurunan metabolisme seluler, termasuk pengurangan pembakaran glukosa di otak dan penumpukan laktat—faktor yang dikaitkan dengan kerusakan jaringan pasca-stroke. Efek serupa juga teramati pada hewan uji, seperti tikus dan monyet rhesus, di mana terapi C+P berhasil memperlambat kematian sel otak lebih efektif daripada metode pendinginan konvensional.
Dr. Eric Landsness dari Washington University School of Medicine, yang tidak terlibat dalam penelitian ini, menekankan bahwa manfaat utama bukan hanya pada penurunan suhu, melainkan pada penekanan metabolisme otak. “Ini bukan sekadar hipotermia, tapi hipometabolisme—proses yang secara langsung memperlambat kerusakan sel,” katanya, mengutip laporan *Live Science*.
Profesor Patrick Lyden dari University of Southern California menambahkan, perlambatan metabolisme adalah kunci perlindungan otak. “Ketika sel-sel otak tidak bekerja keras, mereka lebih sedikit terpapar stres oksidatif dan kekurangan oksigen—dua penyebab utama kematian sel setelah stroke,” ujarnya.
Namun, meski menjanjikan, terapi ini belum menunjukkan perbaikan klinis nyata dalam skor fungsi pasien setelah 90 hari, maupun pengurangan kerusakan otak yang terukur 72 jam pasca-pengobatan. Para peneliti juga mengingatkan risiko potensial dari interaksi kedua obat: kejang otot, gangguan irama jantung, dan kejang. Karena itu, penelitian lanjutan diperlukan untuk memahami mekanisme pastinya dan mengembangkan alternatif yang lebih aman.
Studi ini menjadi langkah penting dalam upaya mencari terapi non-invasif untuk stroke iskemik—jenis stroke paling umum yang menyumbang lebih dari 85 persen kasus. Jika dikembangkan lebih lanjut, pendekatan ini bisa menjadi terobosan dalam jendela waktu kritis pasca-stroke, di mana setiap menit menentukan nasib jutaan sel otak.















