Sumbawanews.com,- Gelombang serangan udara Israel di Lebanon selatan pada Sabtu (20/6) menewaskan setidaknya 32 orang, sebagian besar warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak. Serangan yang melanda tiga kota utama—Qennarit, Nabatieh, dan Tyre—terjadi meskipun gencatan senjata sebelumnya sempat disepakati oleh pihak-pihak terkait.
Menurut otoritas Lebanon, serangan itu menargetkan permukiman padat penduduk, menghancurkan rumah-rumah, sekolah, dan fasilitas umum. Gambar-gambar dari lokasi kejadian menunjukkan puing-puing bangunan yang runtuh, mobil terbakar, dan warga berlarian mencari perlindungan di tengah kabut debu dan asap tebal.
Militer Israel membantah sengaja menyerang warga sipil, dan menyatakan serangan itu sebagai respons terhadap peluncuran lebih dari 50 proyektil oleh kelompok Hizbullah ke wilayah utara Israel dalam 24 jam terakhir. Namun, laporan dari organisasi kemanusiaan dan saksi mata di lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar rudal yang ditembakkan Hizbullah jatuh di area terpencil, sementara serangan balasan Israel justru menghantam pusat-pusat pemukiman.
Krisis ini memperdalam kekhawatiran internasional atas eskalasi konflik yang berpotensi meluas ke seluruh wilayah Timur Tengah. PBB mendesak kedua belah pihak untuk segera kembali ke meja perundingan, sementara negara-negara Eropa dan Arab memperingatkan bahwa ketegangan yang terus memanas bisa menggoyang stabilitas regional.
Di Beirut, ribuan orang turun ke jalan dalam demonstrasi damai, menuntut perlindungan dari serangan berulang. Sementara itu, para korban yang terluka terus dipindahkan ke rumah sakit yang sudah kelebihan kapasitas, dengan staf medis bekerja tanpa henti di bawah cahaya darurat akibat pemadaman listrik berkelanjutan.
Kedua belah pihak tampak terjebak dalam siklus balasan yang tak berujung—dengan setiap serangan memicu reaksi lebih keras, dan setiap reaksi memperdalam penderitaan rakyat biasa yang tak bersalah.















