Sumbawanews.com,- Penasihat politik Pemimpin Tertinggi Iran, Mohammad Bagher Zolghadr, menyatakan bahwa Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali hingga Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu lengser dari jabatan mereka. Penutupan jalur strategis itu, menurut Zolghadr, merupakan tahap pertama dari balasan Iran terhadap pihak-pihak yang dianggap bertanggung jawab atas kematian sejumlah pihak dalam konflik bersenjata. Pasukan Revolusi Islam Iran (IRGC) hingga kini terus menyerang kapal-kapal yang mencoba melintas di rute maritim yang tidak diizinkan Teheran.
Zolghadr menegaskan bahwa perlawanan Iran selama 200 hari terakhir membuktikan upaya-upaya untuk menghentikan sikap tegas Teheran telah gagal. Ia menekankan, pejuang Iran tidak akan melepaskan kendali atas Selat Hormuz sebelum Trump dan Netanyahu benar-benar kehilangan kekuasaan. Pernyataan ini sejalan dengan sikap Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, yang sebelumnya menegaskan bahwa kesepahaman dengan Oman tidak berarti pembukaan kembali jalur tersebut. Araghchi menjelaskan, pembahasan dengan Oman hanya mencakup pengembangan rute maritim alternatif, yang akan disampaikan secara rinci kepada negara-negara terkait.
Araghchi menambahkan, satu-satunya syarat agar Selat Hormuz kembali dibuka adalah kembalinya Amerika Serikat kepada komitmen yang tercantum dalam memorandum Islamabad. Iran tetap menolak membuka jalur itu tanpa jaminan politik yang jelas dari Washington dan Tel Aviv.















