Sumbawanews.com,- Dengan langkah penuh determinasi, Senegal memasuki Piala Dunia 2026 sebagai salah satu kandidat paling menarik di kancah global—dipimpin oleh sang legenda, Sadio Mane, yang akan mengakhiri karier internasionalnya di turnamen ini. Di usia 34 tahun, pemain yang telah mencetak 53 gol dalam 126 penampilan untuk tim nasional itu tak lagi secepat dulu, tapi kecerdasan, visi, dan kepemimpinannya tetap menjadi tulang punggung tim.
Senegal, yang dikenal sebagai “Singa Teranga”, kembali menjadi kekuatan afrika yang tak bisa diabaikan. Mereka menjadi tim pertama dari benua itu yang mengalahkan Inggris 3-1 di Wembley tahun lalu, sekaligus meraih gelar Afrika tahun ini—meski gelar itu akhirnya dicabut oleh CAF akibat kontroversi di final melawan Maroko, ketika pelatih Pape Thiaw memerintahkan pemainnya meninggalkan lapangan setelah wasit memberi penalti kontroversial. Meski keputusan itu memicu kekacauan, Mane justru menjadi suara rasional, meminta rekan-rekannya kembali bermain—sebuah momen yang memperkuat citranya sebagai pemimpin sejati.
Di bawah asuhan Thiaw, yang menggantikan Aliou Cisse pada akhir 2024, Senegal tampil tak terkalahkan dalam kualifikasi dan menunjukkan kedalaman tim yang luar biasa. Di lini depan, Nicolas Jackson—yang dipinjamkan dari Chelsea ke Bayern Munich—menjadi ancaman fisik dengan kecepatan dan posisinya yang brilian, meski finishingnya masih perlu konsistensi. Ismaila Sarr dari Crystal Palace, dengan kecepatan mematikan, kembali menjadi ujung tombak serangan, sementara Pape Matar Sarr dari Tottenham dan Habib Diarra dari Sunderland menjadi jantung midfild yang dinamis dan penuh potensi.
Di belakang, kapten Kalidou Koulibaly, 35, tetap menjadi batu karang pertahanan, membawa pengalaman bertahun-tahun dari Chelsea dan Napoli. Di sampingnya, muncul generasi muda berbakat seperti Bara Ndiaye dari Bayern dan Ibrahim Mbaye dari PSG—keduanya baru berusia 18 tahun, dan menjadi harapan masa depan tim.
Namun, tantangan besar menanti di Grup I: Prancis, Norwegia, dan Irak. Pertandingan pembuka melawan Prancis—juara bertahan dan tim yang penuh bintang—akan menjadi ujian sejati. Senegal pernah mengejutkan dunia dengan mengalahkan Prancis 1-0 di Piala Dunia 2002, dan kali ini, mereka datang dengan kepercayaan diri yang lebih matang. Lalu, pertandingan melawan Norwegia akan menjadi ujian defensif melawan Erling Haaland, sang pencetak gol paling mematikan di Eropa. Tapi pertahanan Senegal yang konsisten di kualifikasi menjanjikan ketahanan.
Meski beberapa bintang mulai menua dan kreativitas di lini tengah kadang tak stabil, kekuatan tim ini terletak pada kesatuan, semangat, dan pengalaman. Mane, yang melewatkan Piala Dunia 2022 karena cedera saat puncak karier, kini punya satu kesempatan terakhir untuk meninggalkan jejak abadi. Jika Senegal bisa melangkah jauh, ia bisa menjadi pahlawan sekaligus simbol peralihan generasi.
Prediksi Al Jazeera: Perempat Final.
Senegal bukan hanya tim yang berani—mereka adalah tim yang punya alasan untuk percaya diri. Dan di bawah sorotan dunia, Mane mungkin akan membuktikan bahwa legenda tak pernah benar-benar pergi—mereka hanya berubah bentuk.

















