Sumbawanews.com,- Edinburgh — Seorang pria berusia 38 tahun ditangkap dan didakwa terkait serangan kekerasan terhadap seorang pria Muslim di kota Edinburgh, Skotlandia, yang terekam kamera pengawas dan memicu kemarahan luas di tengah meningkatnya kekhawatiran akan kebencian berbasis agama.
Insiden itu terjadi pada Jumat malam, ketika korban, seorang pria berusia 45 tahun yang sedang berjalan pulang dari masjid setelah shalat Isya, diserang secara brutal oleh seorang pria tak dikenal. Pelaku menendang dan memukul korban di kepala dan tubuh, sambil meneriakkan kata-kata rasis dan agama. Rekaman kamera keamanan menunjukkan serangan berlangsung selama lebih dari 30 detik, dengan sejumlah saksi yang berlalu tanpa membantu, hingga seorang warga akhirnya menghentikan pelaku dan menahan hingga polisi tiba.
Korban mengalami cedera kepala serius dan dirawat di rumah sakit dalam kondisi stabil. Polisi Skotlandia menyatakan serangan itu “jelas bermotif kebencian terhadap agama” dan telah mengklasifikasikannya sebagai kejahatan kebencian. Pria yang ditangkap, yang identitasnya belum dirilis karena alasan hukum, didakwa dengan tuduhan serangan bermotif kebencian, penganiayaan berat, dan gangguan publik.
Kepala Polisi Skotlandia, Iain Livingstone, menegaskan bahwa kekerasan semacam ini “tidak akan ditoleransi” dan menyerukan masyarakat untuk melapor jika menyaksikan atau mengalami kebencian berbasis agama. “Kami tidak akan membiarkan siapa pun merasa tidak aman karena keyakinan mereka,” ujarnya dalam konferensi pers.
Serangan ini terjadi dalam konteks meningkatnya laporan kejahatan kebencian terhadap komunitas Muslim di Inggris dan Skotlandia sejak awal tahun. Menurut data dari organisasi anti-diskriminasi Tell MAMA, laporan serangan terhadap Muslim di Skotlandia naik 47% dibanding periode yang sama tahun lalu.
Pemimpin komunitas Muslim di Edinburgh, Sheikh Abdul Rahman, menyebut insiden itu sebagai “serangan terhadap nilai-nilai kemanusiaan kita bersama.” Ia menyerukan solidaritas nasional dan mengecam upaya kelompok ekstremis yang mencoba memecah belah masyarakat melalui kebencian.
Pemerintah Skotlandia, melalui Menteri Keadilan, Angela Constance, menyatakan dukungan penuh terhadap korban dan menjanjikan peningkatan pengawasan di lokasi ibadah serta dukungan psikologis bagi korban kejahatan kebencian. “Kita semua bertanggung jawab untuk menjaga keragaman kita sebagai kekuatan, bukan ancaman,” katanya.
Proses hukum terhadap tersangka kini berjalan, dengan sidang pertama dijadwalkan pekan depan. Polisi masih menyelidiki apakah tersangka memiliki keterkaitan dengan kelompok ekstremis, meski hingga kini belum ditemukan bukti langsung.















