Sumbawanews.com,- Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa keberhasilan Timnas Indonesia meraih tiket Piala Dunia tidak bisa dicapai hanya dengan strategi naturalisasi, melainkan harus dibangun dari fondasi kompetisi domestik yang sehat dan berkelanjutan. Dalam rapat terbatas di Hambalang, Bogor, pada 17 Juni 2026, Presiden menginstruksikan Menteri Pemuda dan Olahraga sekaligus Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, untuk segera merevitalisasi struktur liga nasional, mulai dari akar rumput hingga level profesional.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, yang menyampaikan hasil rapat, menjelaskan bahwa Presiden menilai kualitas tim nasional adalah cerminan dari kesehatan sistem sepak bola di dalam negeri. “Kalau kita ingin lolos ke Piala Dunia, kita tidak bisa hanya menunggu pemain naturalisasi datang. Kita harus mencetak generasi yang tangguh, lahir dari lapangan-lapangan desa, sekolah-sekolah, dan liga-liga daerah yang layak,” ujar Prasetyo dalam keterangan resmi, Jumat, 19 Juni 2026.
Ia menekankan bahwa ambisi Indonesia untuk tampil di Piala Dunia 2030 bukan sekadar mimpi, melainkan target strategis yang harus diikuti dengan perencanaan jangka panjang. Prabowo menekankan pentingnya peningkatan kualitas pelatih, infrastruktur, dan sistem kompetisi yang transparan, bukan hanya fokus pada hasil jangka pendek.
Erick Thohir mengakui bahwa naturalisasi pemain berdarah Indonesia—seperti yang dilakukan dalam beberapa tahun terakhir—tetap menjadi bagian dari strategi jangka menengah. Namun, ia menegaskan, kebijakan ini tidak boleh menjadi pelarian dari kewajiban utama: membangun sistem yang mampu melahirkan bakat-bakat lokal secara konsisten. “Pemain naturalisasi memberi kontribusi besar, tapi mereka bukan solusi permanen. Solusi permanen adalah sistem yang membuat anak-anak dari Aceh hingga Papua bisa bermimpi jadi pemain Timnas, bukan hanya menontonnya,” ujar Erick.
Dalam kesempatan itu, Prasetyo juga menyebut bahwa meskipun Timnas gagal lolos ke Piala Dunia 2026, semangat masyarakat yang terlihat dalam nonton bareng di berbagai daerah justru menjadi modal sosial yang tak ternilai. Ia mengajak seluruh elemen bangsa—pemerintah daerah, klub, sekolah, dan masyarakat—untuk bersatu membangun ekosistem sepak bola yang berkeadilan dan berkelanjutan.
Presiden, lanjutnya, ingin agar setiap keputusan PSSI di masa depan diukur dari seberapa jauh ia mampu memperkuat fondasi, bukan hanya memperindah tampilan di atas lapangan. “Mimpi rakyat Indonesia untuk menyaksikan Timnas berlaga di panggung dunia bukan mimpi yang terlalu tinggi. Tapi mimpi itu harus dibayar dengan kerja keras, bukan janji-janji,” tegas Prasetyo.
Sementara itu, pelatih kepala Timnas, John Herdman, yang turut hadir dalam pertemuan itu, menyatakan kesiapannya untuk bekerja sama dalam membangun program jangka panjang yang berbasis data, pendidikan pelatih, dan pengembangan talenta usia dini. Ia menekankan bahwa keberhasilan tim nasional bukan soal siapa yang dipilih, tapi soal bagaimana sistem mempersiapkan mereka.
Dengan tekanan Presiden yang jelas dan komitmen PSSI yang mulai bergeser dari pendekatan reaktif ke proaktif, langkah-langkah konkret—seperti reformasi liga 1, peningkatan standar fasilitas latihan, dan pelatihan berkelanjutan bagi pelatih daerah—diprediksi akan menjadi fokus utama dalam dua tahun ke depan. Bagi Indonesia, bukan lagi soal “bisakah kita lolos?”, tapi “kapan kita mulai benar-benar membangunnya?”.















