Sumbawanews.com,- Sejak menjabat presiden, Prabowo Subianto telah melakukan empat kali kunjungan kenegaraan ke Prancis—sebuah frekuensi yang jarang terjadi dalam hubungan diplomatik Indonesia dengan negara Eropa. Bukan sekadar formalitas, setiap lawatan itu disusun dengan presisi strategis: memperkuat kemitraan ekonomi, memperluas pengaruh geopolitik, dan memperdalam kerja sama pertahanan yang saling menguntungkan.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon, dalam wawancara usai salat Idul Adha di Masjid Istiqlal, Jakarta, pada 27 Mei 2026, menegaskan bahwa hubungan kedua negara bukanlah hubungan semata-mata simbolis. “Saya kira hubungan ekonomi kita sedang baik, dan yang lebih penting, ini hubungan yang saling menguntungkan—di berbagai bidang, dari energi hingga teknologi pertahanan,” ujarnya.
Kunjungan terbaru Prabowo ke Istana Élysée pada 14 April 2026, yang diunggah melalui akun resmi Instagram Presiden, menjadi bukti nyata komitmen ini. Dalam pertemuan berdurasi dua setengah jam bersama Presiden Emmanuel Macron, kedua pemimpin membahas isu-isu global, termasuk peran Prancis sebagai tuan rumah G7, serta kerja sama dalam pengembangan industri strategis di Asia Tenggara.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menambahkan, undangan resmi untuk lawatan ini sudah diajukan sejak tahun lalu dan sempat mengalami penjadwalan ulang—menunjukkan bahwa ini adalah agenda tingkat tinggi, bukan sekadar kunjungan dadakan. “Indonesia adalah gerbang utama Eropa ke Asia, sementara Prancis adalah jembatan penting bagi Asia Tenggara menuju Eropa,” katanya dalam keterangan tertulis, 26 Mei 2026.
Kunjungan Prabowo ke Prancis tidak hanya terbatas pada pertemuan puncak. Pada Juli 2025, ia hadir sebagai tamu kehormatan di Parade Bastille Day di Place de la Concorde, Paris—a salah satu momen simbolis yang jarang diberikan kepada kepala negara non-Eropa. Pada Januari 2026, ia bahkan melakukan lawatan singkat kurang dari lima jam, setelah rangkaian kunjungan ke Inggris dan Swiss, menunjukkan betapa tingginya prioritas Prancis dalam agenda luar negeri Indonesia.
Kerja sama strategis antara kedua negara mencakup transfer teknologi pertahanan, kolaborasi energi terbarukan, hingga pelatihan militer. Di tengah ketegangan geopolitik global, Indonesia semakin memperkuat posisinya sebagai kekuatan netral yang mampu menjalin kemitraan seimbang dengan kekuatan besar—tanpa harus memilih sisi.
Fadli Zon menekankan, hubungan ini bukan tentang kepentingan satu pihak. “Ini adalah hubungan yang dibangun atas dasar saling menghormati dan saling membutuhkan. Prancis butuh akses ke pasar Asia, dan Indonesia butuh mitra yang bisa memberikan teknologi dan stabilitas.”
Dengan empat kunjungan dalam 19 bulan, Prabowo telah menetapkan standar baru dalam diplomasi Indonesia—bukan hanya berbicara tentang kemandirian, tapi juga membangun jaringan nyata yang menguntungkan. Prancis bukan sekadar tujuan wisata diplomatik; ia adalah mitra kunci dalam peta strategis Indonesia di era baru.















