Sumbawanews.com,- Sejumlah duta besar negara sahabat resmi menyampaikan komitmen memperdalam kerja sama strategis dengan Indonesia usai menyerahkan surat kepercayaan kepada Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (9/6/2026). Dalam pertemuan tertutup yang berlangsung hangat, para duta besar menyatakan optimisme terhadap arah baru kebijakan luar negeri Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo, dengan fokus pada konektivitas maritim, logistik, dan kolaborasi ekonomi berkelanjutan.
Duta Besar Panama untuk Indonesia, Bernardo Brea Rodriguez, mengungkapkan kekagumannya terhadap keramahan yang ia terima sejak tiba di Tanah Air. Ia menekankan posisi strategis kedua negara—Indonesia sebagai poros maritim dunia dan Panama sebagai gerbang antar samudra—sebagai fondasi kuat untuk membangun kemitraan baru. “Kami ingin menjadi jembatan yang menghubungkan Asia Tenggara dengan Amerika Latin melalui jalur laut dan logistik yang efisien,” ujar Brea Rodriguez. Ia menambahkan, pihaknya siap mendorong investasi di pelabuhan, teknologi transportasi, dan pengembangan rantai pasok global.
Sementara itu, Duta Besar Portugal, Maria Gabriela Vieira Soares de Albergaria, menyampaikan perasaan pribadi yang mendalam atas penugasannya di Indonesia. “Saya merasa seperti pulang ke rumah,” ujarnya dengan nada tulus. Ia menyoroti sejarah panjang hubungan budaya dan perdagangan antara Portugal dan Nusantara, serta menekankan pentingnya membangun kembali ikatan itu di era modern—terutama di bidang energi terbarukan, pendidikan tinggi, dan pariwisata berkelanjutan. “Kami percaya Indonesia bukan hanya mitra, tapi sahabat sejati yang bisa menjadi teladan bagi dunia,” katanya.
Pertemuan ini menandai serah terima surat kepercayaan dari sembilan duta besar dari berbagai benua, termasuk negara-negara di Eropa, Amerika Latin, dan Asia. Meski tidak disebutkan satu per satu, sumber resmi mengonfirmasi bahwa seluruh duta besar menyampaikan dukungan terhadap inisiatif Indonesia dalam memperkuat peran sentralnya di kawasan Indo-Pasifik, serta mendukung upaya peningkatan daya saing ekonomi nasional melalui kerja sama teknologi dan infrastruktur.
Presiden Prabowo Subianto, dalam sambutannya, menegaskan bahwa Indonesia tidak hanya membuka diri terhadap mitra tradisional, tetapi juga aktif membangun jaringan baru yang berbasis saling menguntungkan dan saling menghormati. “Kemitraan bukan soal jumlah, tapi kualitas. Bukan soal kepentingan sementara, tapi warisan yang berkelanjutan,” ujar Presiden.
Pertemuan ini menjadi salah satu langkah awal diplomasi presidensi Prabowo yang menekankan pendekatan pragmatis namun berwawasan jangka panjang. Dengan fokus pada konektivitas, keamanan maritim, dan transformasi ekonomi, Indonesia tampaknya sedang membangun ulang peta kemitraan globalnya—bukan hanya sebagai negara besar, tetapi sebagai mitra yang dipercaya dan dihormati.

















