Home Berita Nasional Pendidikan di Ujung Tanah Papua Diperbaiki

Pendidikan di Ujung Tanah Papua Diperbaiki

Sumbawanews.com,- Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa tak seorang pun anak Indonesia boleh dibiarkan tertinggal dalam akses pendidikan—terlebih di wilayah paling terpencil sekalipun. Dalam kunjungan bersejarah ke Pulau Arar, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, Mu’ti menyaksikan langsung transformasi fisik dan semangat belajar yang bangkit pasca-revitalisasi sekolah yang selama bertahun-tahun terlantar.

Kunjungan itu bukan sekadar simbolis. Ini adalah bukti nyata komitmen pemerintah pusat untuk menjangkau ujung-ujung Nusantara. Pulau Arar, yang sebelumnya hanya bisa diakses lewat perjalanan laut berjam-jam, kini memiliki ruang kelas baru, toilet layak, ruang UKS, dan rumah dinas guru—semua hasil dari program Revitalisasi Satuan Pendidikan 2026 yang menjadi prioritas nasional.

“Tidak boleh ada anak yang kehilangan kesempatan belajar karena lokasi, ekonomi, atau kondisi fisik sekolahnya,” tegas Mu’ti, menegaskan bahwa pendidikan bukan hak istimewa, tapi kebutuhan dasar yang harus dipenuhi di mana pun.

Di sekolah SMA Unimuda Pulau Arar, siswi Meske Salomina Sosir menggambarkan perubahan itu dengan mata berbinar. “Dulu, bangunannya rusak, atap bocor, kelas pengap. Banyak teman yang enggan datang,” katanya. “Kini, setiap pagi, kami jadi yang pertama datang. Kami ingin belajar, karena ruangnya sudah layak.”

Perubahan ini bukan hanya soal beton dan cat. Pemerintah juga mengoptimalkan lima model pendidikan adaptif: pembelajaran jarak jauh, sekolah satu atap, sekolah terbuka berbasis komunitas, pendidikan kesetaraan, hingga kursus dan pelatihan vokasional. Semua dirancang untuk menyesuaikan keunikan geografis dan budaya Papua Barat Daya, yang memiliki lebih dari 900 kampung, 1.200 sekolah, dan 10 ribu guru yang tersebar di wilayah dengan akses terbatas.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Papua Barat Daya, Adolof Kambuaya, menyebut kunjungan Menteri sebagai momen pertama dalam sejarah. “Belum pernah ada menteri yang sampai ke sini. Ini memberi harapan besar bagi kami,” ujarnya.

Di SD Inpres 27 Sorong, fasilitas baru yang dibangun juga langsung dirasakan. Toilet yang sebelumnya tak berfungsi kini bersih dan terawat. Ruang UKS yang dulu hampa kini berisi peralatan medis dasar. Guru-guru yang dulu tinggal di rumah reyot kini punya tempat tinggal layak—sebuah langkah strategis untuk menahan laju kepergian tenaga pendidik.

Mu’ti menutup kunjungannya dengan peresmian resmi fasilitas baru, sekaligus menyerukan kolaborasi lintas sektor. “Kita tidak bisa bekerja sendiri. Pemerintah daerah, masyarakat adat, dan seluruh elemen bangsa harus bersatu. Anak-anak di sini bukan milik Papua saja. Mereka adalah masa depan Indonesia.”

Di tengah tantangan geografis yang ekstrem, di ujung timur Nusantara, sebuah pesan sederhana namun menggema: pendidikan bukan soal jarak, tapi soal keberanian untuk sampai. Dan kali ini, pemerintah telah memilih untuk datang.

Previous articleTak Sekedar Kurban, Lanud Sjamsudin Noor Rajut Kebersamaan dan Kepedulian Semangat Berbagi Kepada Sesama di Hari Raya Idul Adha 1447 H/2026 M
Next articleParanormal Gadungan Jadi Kedok Curanmor di Duren Sawit
Avatar photo
Kami adalah Jurnalis Jaringan Sumbawanews, individu idealis yang ingin membangun jurnalistik sehat berdasarkan UU No.40 Tahun 1999 tentang PERS, dan UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dalam menjalankan Tugas Jurnalistik, kami sangat menjunjung tinggi kaidah dan Kode Etik Jurnalistik, dengan Ethos Kerja, Koordinasi, Investigasi, dan Verifikasi sebelum mempublikasikan suatu artikel, opini, dan berita, sehingga menjadi suatu informasi yang akurat, baik dalam penulisan kata, maupun penggunaan tatabahasa.