Sumbawanews.com,- Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben Gvir, membatalkan rencana perjalanan keluarganya ke Amerika Serikat setelah mengalami hambatan serius dalam proses permohonan visa. Menurut laporan media Israel, *Haaretz*, Kedutaan Besar AS meminta Ben Gvir untuk hadir secara langsung guna memberikan sidik jari biometrik — sebuah prosedur yang biasanya tidak wajib bagi pejabat tinggi negara sekutu.
Namun, sejumlah sumber di Timur Tengah menilai permintaan ini bukan sekadar prosedur administratif, melainkan sinyal keengganan pemerintah AS untuk memberikan akses kepadanya. Media *Middle East Monitor* menyebut langkah ini sebagai respons diplomatis terhadap kontroversi berulang yang melibatkan Ben Gvir, yang telah dilarang masuk ke sejumlah negara Eropa, termasuk Spanyol, karena tindakan provokatifnya terhadap aktivis pro-Palestina.
Baru-baru ini, ia menjadi sorotan global setelah mengunggah video di platform X (sebelumnya Twitter) yang menunjukkan para relawan dari Global Sumud Flotilla — kelompok aktivis yang ditangkap di Pelabuhan Ashdod — dalam keadaan tangan terikat dan dipaksa sujud oleh petugas Israel. Dalam rekaman itu, Ben Gvir terlihat tersenyum sambil berjalan melewati para aktivis, bahkan menyaksikan salah seorang dari mereka ditampar tanpa berusaha menghentikan tindakan itu. Kalimatnya yang terkenal: “Selamat datang di Israel,” pun menjadi simbol kebijakan represif yang ia dukung.
Ben Gvir juga dikenal sebagai tokoh paling vokal dalam upaya menggoyang status quo di Masjid Al-Aqsa. Ia kerap memaksa masuk ke kompleks suci itu, meskipun perjanjian internasional secara tegas membatasi akses non-Muslim hanya sebagai pengunjung, tanpa izin untuk beribadah. Umat Yahudi, termasuk Ben Gvir, diharuskan beribadah di Tembok Ratapan — lokasi terpisah di luar kompleks Al-Aqsa — bukan di dalamnya. Tindakannya di situs suci ini telah memicu kemarahan luas di dunia Muslim dan mendapat kecaman dari PBB serta organisasi kemanusiaan.
Kebijakan AS yang tampaknya menunda atau menghalangi perjalanan Ben Gvir datang di tengah ketegangan diplomatik yang memanas antara Washington dan Tel Aviv. Presiden AS Donald Trump, yang baru saja kembali menjabat, sebelumnya terbukti frustrasi terhadap Perdana Menteri Benjamin Netanyahu atas kegagalan mencapai kesepakatan damai dengan Iran, serta keputusan Israel yang mengabaikan tekanan internasional untuk menghentikan serangan di Lebanon dan menutup akses ke situs-situs keagamaan Palestina.
Dengan batalnya rencana perjalanan Ben Gvir, banyak pengamat melihat ini sebagai bagian dari kalkulasi diplomasi AS yang semakin enggan memberikan legitimasi kepada tokoh-tokoh yang dianggap memperdalam konflik, bukan menyelesaikannya. Bagi banyak pihak, keputusan ini bukan sekadar soal visa — tapi soal batas moral yang kini mulai ditegakkan, bahkan oleh sekutu sekalipun.















