Sumbawanews.com,- Jakarta – Di mana pun Anda berada, hampir pasti Anda akan melihat sekitar 90 persen orang menggunakan tangan kanan sebagai tangan utama. Hanya sepuluh persen yang kidal. Fenomena ini begitu universal—hingga membuat para ilmuwan bertanya: mengapa manusia begitu berbeda dari kerabat primata lainnya yang tak menunjukkan kecenderungan seragam?
Jawabannya, menurut penelitian terbaru dari University of Oxford, bukan terletak pada tangan—melainkan pada kaki.
Tim peneliti yang dipimpin antropolog evolusioner Thomas Pusche menganalisis data perilaku, sistem saraf, dan ciri fisik dari 41 spesies monyet dan kera, lalu membandingkannya dengan manusia. Mereka menguji berbagai teori yang selama ini diajukan: apakah dominansi tangan berkaitan dengan diet, penggunaan alat, struktur sosial, atau cara bergerak? Semua faktor itu ternyata tidak cukup menjelaskan keunikan manusia.
Kunci tersembunyi justru muncul ketika peneliti memasukkan dua variabel baru: ukuran otak dan rasio panjang kaki terhadap tangan. Rasio ini, meski tampak teknis, menjadi indikator kuat terhadap tingkat bipedalisme—kemampuan berjalan tegak dengan dua kaki. Dan saat kedua variabel ini dimasukkan ke dalam model statistik, “pengecualian” manusia menghilang. Tidak ada lagi yang aneh tentang dominansi tangan kanan: itu adalah hasil alami dari evolusi tubuh kita.
“Ini bukan soal tangan yang berubah, tapi soal tubuh yang berubah,” kata Pusche, seperti dikutip dari *Popular Science*. “Ketika nenek moyang kita mulai berjalan tegak, kaki menjadi tumpuan utama. Tangan pun bebas—dan otak yang semakin besar mulai mengoptimalkan penggunaannya secara asimetris.”
Penelitian ini, yang diterbitkan di *PLOS Biology* pada 27 April 2026, juga merekonstruksi jejak evolusi dominansi tangan pada spesies hominin purba. Hasilnya menunjukkan garis waktu yang jelas: *Ardipithecus* dan *Australopithecus* hanya menunjukkan kecenderungan lemah terhadap dominasi tangan kanan—mirip dengan kera besar modern. Baru pada munculnya *Homo ergaster* dan *Homo erectus*, kecenderungan itu mulai menguat. Puncaknya tercapai pada *Homo sapiens*, di mana dominasi tangan kanan menjadi norma hampir mutlak.
Namun, ada satu pengecualian mencolok: *Homo floresiensis*, atau “hobbit” yang pernah hidup di Flores, Indonesia. Meski berjalan tegak, spesies ini memiliki otak kecil dan tubuh yang lebih cocok untuk memanjat. Pola dominansi tangan mereka tidak mengikuti tren umum—mengonfirmasi bahwa otak besar dan kaki panjang adalah dua pilar kunci yang saling memperkuat.
Peneliti menyimpulkan bahwa transisi ke dominasi tangan kanan terjadi dalam dua tahap: pertama, evolusi bipedalisme yang melepaskan tangan dari fungsi bergerak; kedua, ekspansi otak yang memperkuat asimetri saraf, sehingga sisi kanan otak—yang mengendalikan tangan kiri—menjadi dominan dalam koordinasi motorik halus. Tangan kanan, akibatnya, menjadi alat utama untuk membuat alat, makan, dan berinteraksi.
“Kami tidak hanya menjawab ‘mengapa tangan kanan dominan’,” ujar Pusche. “Tapi juga menunjukkan bahwa ini bukan keunikan manusia semata—melainkan hasil dari kombinasi adaptasi fisik yang terjadi di seluruh garis keturunan primata, yang hanya mencapai puncaknya pada kita.”
Penelitian ini membuka jalan baru: mengapa tangan kiri tetap bertahan di 10 persen populasi? Apakah ada keunggulan evolusioner di balik kidalitas? Dan apakah hewan lain—misalnya, primata yang mulai berjalan tegak—juga akan mengalami tren serupa?
Dengan kerangka analisis yang baru ini, para ilmuwan kini memiliki peta jelas: dominansi tangan kanan bukanlah kebetulan, tapi jejak dari perjalanan panjang kita dari pohon ke tanah, dari gerakan empat kaki ke langkah tegak—dan dari otak kecil ke kecerdasan yang mampu menciptakan peradaban.















