Home Berita Nasional Medan Terjebak Mati Lampu dan Krisis Air

Medan Terjebak Mati Lampu dan Krisis Air

Sumbawanews.com,- Warga Medan terus bergulat dengan dua bencana sehari-hari yang saling memperparah: pemadaman listrik bergilir yang tak kunjung usai dan krisis air bersih yang mengancam kesehatan ribuan keluarga. Tiga pekan sejak kegagalan sistem transmisi listrik di jalur Galang–Sei Mangkei akibat cuaca ekstrem, gangguan listrik masih terjadi hampir setiap hari—kadang hingga empat jam berturut-turut—menghancurkan aktivitas rumah tangga, usaha kecil, dan bahkan nyawa manusia.

Di Deli Serdang, Nina, seorang ibu rumah tangga, menggambarkan penderitaan itu dengan sederhana: “Masih sering mati lampu. Kalau siang, panasnya luar biasa. Kalau malam, tak bisa nyalakan kipas, tak bisa nyalakan lampu. Kami seperti hidup di zaman prasejarah.” Di Simpang Limun, Nur mengaku rumahnya sudah tiga kali kehilangan listrik sejak insiden 22 Mei lalu. “Kami sudah pasrah, tapi tak ada jaminan besok tidak akan terulang.”

Penderitaan paling memilukan terjadi di Sei Mencirim, Sunggal. Pasangan suami istri, Suharlin dan Dame Lamria Pakpahan (47), ditemukan meninggal di dalam mobil Chevrolet hitam yang terparkir di depan rumah orang tua mereka. Mereka memilih tidur di dalam mobil karena listrik di rumah padam, dan kabin yang terkunci rapat berubah menjadi oven panas. Saksi mengatakan, Dame yang lumpuh akibat sakit dan Suharlin yang sehat, menolak ajakan masuk ke rumah karena “di mobil saja cukup.” Ketika ditemukan pada Jumat, 5 Juni, suhu di dalam mobil mencapai level mematikan. Tim medis di Rumah Sakit Madani menyatakan keduanya meninggal karena hipertermia—kematian yang tak terhindarkan akibat kegagalan infrastruktur dasar.

PT PLN mengakui bahwa kerusakan pada 12 tower transmisi akibat hujan lebat dan angin kencang pada 4 Juni lalu menjadi akar masalah. General Manager PLN UID Sumatra Utara, Mundhakir, menyatakan bahwa pemulihan sistem akan berlangsung hingga 14 Juni 2026. Untuk mempercepat proses, PLN mengerahkan 7 unit Tower Emergency Restoration System (ERS) dari Jakarta, Balikpapan, dan Banjarbaru, serta 154 personel gabungan TNI dan petugas teknis yang berhasil membangun tiga tower darurat dalam waktu singkat. Namun, masyarakat merasa kecewa. “Sudah tiga pekan, tapi kami masih jadi korban,” keluh Nina.

Tak cukup sampai di situ, krisis air bersih melanda puluhan ribu pelanggan PDAM Tirtanadi di tujuh kecamatan: Medan Amplas, Medan Kota, Medan Area, Medan Perjuangan, Medan Maimun, Delitua, dan Percut Sei Tuan. Kerusakan terparah terjadi di Instalasi Pengolahan Air Minum (IPAM) Deli Tua, di mana tekanan listrik yang tak stabil menyebabkan “shock pressure” merusak mesin dan memicu pecahnya pipa utama berdiameter 1.000 milimeter. “Kami terpaksa menghentikan produksi air total agar tim bisa fokus memperbaiki pipa raksasa itu,” kata Direktur Utama PDAM Tirtanadi, Ardian Surbakti. Pemulihan ditargetkan selesai pada Kamis, 11 Juni, namun warga masih menunggu dengan cemas.

Dalam situasi kritis ini, sebuah video viral memperlihatkan mobil Damkarmat Kota Medan memasok air ke sebuah rumah di Jalan STM Gang Suka Cita, yang diduga milik Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, Benny Sinomba Siregar. Warga yang sudah berhari-hari kekurangan air langsung bereaksi marah. “Kami tidak dapat air, tapi pejabat dapat?” teriak seorang ibu dalam rekaman itu. Ketegangan memuncak hingga mobil Damkarmat terpaksa pergi sebelum proses pengisian selesai.

Kepala Dinas Damkarmat, Wandro Abadi Agnellus Malau, membantah bahwa mobil itu dikerahkan atas permintaan pribadi Benny. Ia menegaskan, penyaluran air dilakukan berdasarkan koordinasi dengan PDAM dan menjangkau seluruh wilayah terdampak. Namun, keraguan publik tak mudah sirna. “Ini bukan soal siapa yang dapat air, tapi soal keadilan. Saat rakyat kecil menangis, jangan sampai yang didengar hanya suara pejabat,” kata seorang warga di Medan Perjuangan.

Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, tak tinggal diam. Ia mendatangi kantor PLN UP2B Sumbagut pada 7 Juni dan menuntut kompensasi nyata bagi warga. “PLN terlalu lemah dalam komunikasi. Masyarakat tidak diberi jadwal pasti, tidak diberi peringatan, lalu diminta sabar. Sementara pengusaha kecil rugi, pedagang makanan kehilangan stok, dan anak-anak sakit karena air kotor,” tegas Bobby. Ia meminta PLN memberikan diskon tagihan atau keringanan token bagi pelanggan prabayar—langkah yang seharusnya sudah menjadi standar dalam situasi darurat.

Di tengah kegagalan sistem, warga Medan kini hidup dalam dua realitas: listrik yang tak bisa diandalkan, dan air yang tak bisa diakses. Mereka bukan hanya menunggu perbaikan teknis—mereka menuntut keadilan, transparansi, dan penghormatan terhadap nyawa manusia. Di kota yang pernah menjadi pusat perdagangan dan budaya Sumatra, kini rakyatnya berjuang hanya untuk mendapatkan listrik dan air—kebutuhan paling dasar yang seharusnya menjadi hak, bukan hadiah.

Previous articleBupati Muara Enim Terjaring OTT, Jaringan Suap Merambat ke BPK
Next articleKanada dan Bosnia Berjuang untuk Poin Pertama
Avatar photo
Kami adalah Jurnalis Jaringan Sumbawanews, individu idealis yang ingin membangun jurnalistik sehat berdasarkan UU No.40 Tahun 1999 tentang PERS, dan UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dalam menjalankan Tugas Jurnalistik, kami sangat menjunjung tinggi kaidah dan Kode Etik Jurnalistik, dengan Ethos Kerja, Koordinasi, Investigasi, dan Verifikasi sebelum mempublikasikan suatu artikel, opini, dan berita, sehingga menjadi suatu informasi yang akurat, baik dalam penulisan kata, maupun penggunaan tatabahasa.