Home Berita Internasional Manhattanhenge Kembali Memukau New York

Manhattanhenge Kembali Memukau New York

Sumbawanews.com,- Ribuan warga dan wisatawan memadati jalanan Manhattan akhir Mei lalu, menanti momen langka ketika matahari terbenam tepat sejajar dengan garis lurus jalan-jalan kota—fenomena yang dikenal sebagai Manhattanhenge. Dengan cahaya keemasan menyapu antara deretan pencakar langit, pemandangan ini bukan sekadar keindahan alam, tapi juga simbol kecermatan tata kota yang tak sengaja menjadi panggung astronomi.

Fenomena ini terjadi dua kali setahun, ketika matahari terbenam di garis khatulistiwa dan posisi grid jalan Manhattan—yang miring sekitar 29 derajat dari arah utara-selatan—memungkinkan cakram matahari tampak tergantung di antara gedung-gedung tinggi. Pada 28 dan 29 Mei 2026, ribuan orang berkumpul di jalur-jalur strategis seperti 14th, 23rd, 34th, 42nd, hingga 57th Street, membawa kamera dan ponsel, menangkap momen yang hanya berlangsung beberapa menit.

Istilah “Manhattanhenge” pertama kali diciptakan pada 1997 oleh astrofisikawan Neil deGrasse Tyson, yang terinspirasi oleh kemiripannya dengan Stonehenge di Inggris. Namun, berbeda dengan monumen kuno yang dirancang secara sengaja untuk mengamati gerak matahari, Manhattanhenge adalah kebetulan arsitektural—hasil dari rencana tata kota abad ke-19 yang menetapkan jalan-jalan utama mengikuti pola grid, bukan arah kompas.

Kondisi cuaca menjadi penentu utama keberhasilan pengamatan. Langit cerah memperlihatkan cahaya matahari dengan jelas, sementara awan tebal atau kabut bisa mengaburkan keajaiban ini. Pada tahun ini, cuaca mendukung, memicu gelombang unggahan di media sosial yang membandingkan Manhattan dengan kuil kuno.

Fenomena serupa dijadwalkan kembali pada 11 dan 12 Juli 2026, ketika matahari terbit—bukan terbenam—akan menyinari jalan-jalan Manhattan dari arah timur, menciptakan versi “pagi” dari keajaiban ini. Bagi penduduk New York, ini bukan sekadar peristiwa astronomi, tapi ritual tahunan yang menyatukan kota dalam keheningan bersama—sejenak, semua orang berhenti, menengadah, dan menyaksikan matahari berjalan di antara beton dan baja, seolah alam masih punya ruang di tengah urbanisasi yang tak kenal ampun.

Previous articleJongot: Hutan Warisan Suku Musi
Next articleKorban Kebakaran Kemayoran Antre Bantuan Pakaian dan Kebutuhan Pokok
Avatar photo
Kami adalah Jurnalis Jaringan Sumbawanews, individu idealis yang ingin membangun jurnalistik sehat berdasarkan UU No.40 Tahun 1999 tentang PERS, dan UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dalam menjalankan Tugas Jurnalistik, kami sangat menjunjung tinggi kaidah dan Kode Etik Jurnalistik, dengan Ethos Kerja, Koordinasi, Investigasi, dan Verifikasi sebelum mempublikasikan suatu artikel, opini, dan berita, sehingga menjadi suatu informasi yang akurat, baik dalam penulisan kata, maupun penggunaan tatabahasa.