Sumbawanews.com,- Lima orang tewas dan tiga lainnya masih hilang setelah sebuah bom sisa Perang Dunia II meledak di Kabupaten Biak Numfor, Papua. Kejadian tragis ini terjadi saat sekelompok warga sedang menggali tanah di sekitar rumah mereka, diduga mencari bahan bangunan atau benda bernilai sejarah. Ledakan dahsyat itu tidak hanya merenggut nyawa, tapi juga menghancurkan sejumlah rumah dan memaksa 55 warga mengungsi.
Kepolisian Daerah Papua mengidentifikasi korban tewas sebagai Deflin Raubaba (41), Moris Raubaba (24), Karmila Ayorbaba (25), Israel Raubaba (7), dan Isril Raubaba (5). Semua korban berasal dari satu keluarga besar yang tinggal di Distrik Biak Kota. Menurut Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol Cahyo Sukarnito, jenazah kelima korban akan dimakamkan secara massal di Tempat Pemakaman Umum Surido, dengan prosesi yang mempertimbangkan kearifan lokal dan kebutuhan keluarga.
Sementara itu, tiga orang lainnya—Yulianus Raubaba (26), Lai Madura (45), dan Anis Marandof (27)—masih dalam pencarian tim gabungan yang terdiri dari aparat keamanan, relawan, dan ahli penjinak bom. Tim masih berusaha menentukan lokasi pasti korban yang tertimbun puing-puing akibat ledakan.
Selain korban jiwa, 19 orang lainnya mengalami luka ringan dan telah mendapat penanganan medis di puskesmas terdekat. Sebagian besar luka berasal dari pecahan logam dan tekanan gelombang kejut yang menghantam rumah-rumah di sekitar titik ledakan.
Ledakan ini mengingatkan kembali betapa warisan perang masih menyisakan bahaya mematikan di tanah Papua. Selama puluhan tahun, bom-bom yang dijatuhkan pasukan Sekutu dan Jepang selama PD II terpendam di tanah, sungai, dan hutan. Meski telah ada upaya penjinakan oleh TNI dan lembaga internasional, banyak wilayah di Biak dan sekitarnya belum sepenuhnya dibersihkan dari ranjau dan amunisi tua.
Pemerintah daerah kini berencana memperluas sosialisasi bahaya benda peledak sisa perang, sekaligus mempercepat proses deteksi dan penjinakan di wilayah-wilayah rawan. Warga diminta segera melaporkan temuan benda mencurigakan, bukan menggali atau mengambilnya.
Kasus ini menjadi peringatan keras: sejarah tidak selalu berlalu. Di beberapa titik di Indonesia, terutama di Papua, ia masih berbisik—dengan suara ledakan.















