Sumbawanews.com,- Amerika Serikat — Lamine Yamal, remaja berusia 18 tahun 343 hari, mencatatkan namanya dalam sejarah Piala Dunia setelah mencetak gol pembuka dalam kemenangan Spanyol 4-0 atas Arab Saudi di Stadion Atlanta, Minggu (21/6/2026). Gol yang ia cetak pada menit ke-11 itu tak hanya membuka jalan bagi La Roja menuju puncak Grup H, tetapi juga menjadikannya pencetak gol termuda ketujuh sepanjang sejarah turnamen ini.
Dengan pencapaian ini, Yamal berhasil melampaui legenda sepak bola dunia Lionel Messi, yang saat mencetak gol pertamanya di Piala Dunia berusia 18 tahun 357 hari. Kini, nama Yamal bergabung dalam daftar elite 10 pemain termuda yang pernah mencetak gol di ajang paling bergengsi di dunia sepak bola.
Sebelumnya, Yamal hanya tampil sebagai pemain pengganti dalam laga pembuka Spanyol melawan Tanjung Verde, karena baru pulih dari cedera paha. Namun, dalam laga kedua ini, ia tampil sebagai starter dan membuktikan bahwa ia bukan sekadar talenta masa depan, melainkan pemain kunci di masa kini. Kehadirannya di sayap kanan menjadi ancaman konstan bagi pertahanan Arab Saudi, dan golnya—yang diakhiri dengan tendangan akurat dari luar kotak penalti—menjadi momen paling bersejarah dalam karier muda sang remaja.
Sujud syukur Yamal usai mencetak gol pun menjadi gambar ikonik yang menyebar luas di media sosial, menunjukkan kerendahan hati dan kekhusyukan yang jarang ditemukan pada usia sebelia itu. Pelatih Spanyol, Luis de la Fuente, menyebut Yamal sudah berada dalam kondisi terbaiknya dan menjadi bukti nyata bahwa generasi baru Spanyol siap mengambil estafet kejayaan.
Dengan kemenangan ini, Spanyol memimpin klasemen Grup H dengan enam poin, dan Yamal menjadi sorotan utama di tengah persaingan sengit antar bintang muda dunia seperti Mbappé dan Haaland. Ia bukan lagi pemain muda yang diharapkan—ia sudah menjadi pemain yang menentukan.
Di balik semua kehebatannya, Yamal tetap memilih untuk tetap rendah hati. “Ini bukan tentang saya,” katanya usai laga. “Ini tentang tim. Kami punya mimpi besar, dan saya hanya berusaha membantu mewujudkannya.”
Dengan performa ini, nama Lamine Yamal tak lagi hanya dikenal sebagai prodigies Barcelona—ia kini menjadi simbol generasi baru sepak bola dunia yang lahir di tengah tekanan, tapi mampu bersinar lebih terang dari yang pernah dibayangkan.















