Sumbawanews.com,- Laga Austria melawan Aljazair di pertandingan terakhir Grup J Piala Dunia 2026 berakhir dengan skor 3-3—sebuah hasil yang memicu kemarahan luas dan tuduhan konspirasi. Hasil imbang itu mengantarkan kedua tim lolos ke babak 16 besar, sementara Iran, yang sebelumnya belum pernah kalah dalam tiga laga grup, tiba-tiba tersingkir hanya karena selisih gol yang diputuskan oleh gol penyeimbang di menit ke-96.
Drama berlangsung penuh ketegangan. Austria unggul dua kali lewat Marko Arnautovic dan Marcel Sabitzer, tetapi selalu dijawab habis oleh Rafik Belghali dan Riyad Mahrez. Di menit ke-93, Mahrez menyamakan skor menjadi 3-2, seolah membuka pintu bagi Aljazair untuk menyapu bersih Austria dari persaingan. Tapi hanya beberapa detik sebelum peluit panjang berbunyi, Sasa Kalajdzic mengejutkan seluruh dunia dengan gol penyeimbang—mengubah kekalahan menjadi kemenangan tak terduga, sekaligus mengubur harapan Iran.
Kekalahan Iran bukan karena kelemahan permainan. Mereka bermain tanpa kekalahan, mengalahkan Kanada 2-1, menahan imbang Nigeria 1-1, dan bahkan mengalahkan Polandia 2-1. Namun, dalam sistem grup yang kompleks, hasil imbang antara Austria dan Aljazair—yang sama-sama hanya butuh satu poin—mengakibatkan Iran, meski punya poin lebih banyak dari salah satu lawan, tetap tersingkir karena selisih gol.
Kontroversi ini langsung membangkitkan memori akan “Aib Gijon” di Piala Dunia 1982, saat Jerman Barat dan Austria diketahui bermain pasif demi memastikan kelolosan bersama dan mengorbankan Aljazair. Kini, sejarah seolah berulang, hanya dengan peran yang berganti: Austria dan Aljazair menjadi aktor utama, sementara Iran menjadi korban tanpa bersalah.
Pendukung Iran di seluruh dunia membanjiri media sosial dengan protes. “Kami tidak kalah karena tak bermain bagus. Kami kalah karena permainan yang disengaja,” tulis Mehdi Taremi, kapten timnas Iran, dalam unggahan resmi pasca-laga. “FIFA harus menjelaskan: apakah ini kebetulan, atau bagian dari skema yang lebih besar?”
Pakar sepak bola internasional pun ikut bersuara. “Bukan hanya skornya yang aneh, tapi timing-nya. Gol terakhir datang persis di detik di mana satu-satunya hasil yang menguntungkan Austria dan Aljazair adalah imbang. Ini terlalu sempurna untuk disebut kebetulan,” ujar mantan wasit internasional, Javier Fernández.
FIFA belum memberikan pernyataan resmi. Namun, laporan dari kantor ombudsman sepak bola global mengonfirmasi bahwa mereka sedang mempelajari data pergerakan taruhan dan pola permainan selama 15 menit terakhir. Jika ditemukan indikasi manipulasi, konsekuensinya bisa berupa sanksi berat terhadap kedua tim dan pelatihnya.
Sementara itu, Iran pulang dengan kepala tegak—tak pernah kalah, tapi tergusur oleh kebijakan sistem dan keajaiban yang terasa seperti rekayasa. Di dalam ruang media, seorang wartawan asal Teheran hanya berkata: “Kami datang untuk bermain. Mereka datang untuk menang. Tapi kami tidak menyangka, mereka datang untuk mengatur kemenangan mereka dengan cara yang paling keji.”















