Sumbawanews.com,- Kebakaran besar meluluhlantakkan Pasar Jiung di Kemayoran, Jakarta Pusat, pada Senin malam (1/6/2026), menghanguskan 250 bangunan semipermanen dan memaksa 500 jiwa kehilangan tempat tinggal serta sumber penghidupan. Api yang bermula dari satu titik di dalam pasar meluas cepat, mengganas di tengah padatnya susunan los dan kios yang terbuat dari bahan mudah terbakar.
Menurut Kasi Humas Polres Metro Jakarta Pusat, Iptu Erlyn Sumantri, kerugian materiil belum dapat dihitung secara pasti karena petugas masih berada di tahap pendataan awal. Namun, dampak sosialnya jelas: 300 kepala keluarga terdampak langsung, dengan sebagian besar pedagang kecil kehilangan seluruh barang dagangan, peralatan, dan simpanan uang mereka.
Saksi mata, Jefri (42), seorang pedagang di sekitar lokasi, menggambarkan kejadian itu sebagai bencana yang datang tanpa peringatan. “Api awalnya kecil, seperti korsleting di dekat kios elektronik bekas. Tapi dalam hitungan menit, api sudah menjalar ke seluruh sisi pasar. Tidak ada ruang untuk menyelamatkan apa-apa,” katanya, sambil menatap puing-puing yang masih mengasap.
Tim pemadam kebakaran dari 11 unit mobil dikerahkan ke lokasi, berjuang selama lebih dari empat jam untuk mengendalikan api yang membara di tengah jalan sempit dan akses terbatas. Petugas mengaku kesulitan karena banyaknya bahan kimia, kain, dan plastik yang menjadi bahan dagangan—semuanya mempercepat penyebaran api.
Pemerintah Kota Jakarta Pusat langsung merespons dengan membuka posko bantuan darurat di dekat lokasi kebakaran. Tim sosial dari Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, dan organisasi masyarakat mulai mendistribusikan makanan, air bersih, dan perlengkapan dasar kepada korban.
Belum ada indikasi kejahatan atau kelalaian yang disengaja. Penyebab pasti masih dalam penyelidikan oleh tim gabungan dari Polres Jakarta Pusat dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah. Namun, kejadian ini kembali menggugah perdebatan soal keamanan struktural pasar tradisional di kawasan padat penduduk—yang hingga kini masih banyak bertahan tanpa sistem pemadam otomatis, jalur evakuasi memadai, atau pemisahan bahan berbahaya.
Warga dan pedagang kini berharap pemerintah tidak hanya memberikan bantuan sementara, tapi juga merancang ulang sistem pasar tradisional agar tidak lagi menjadi “time bomb” yang siap meledak kapan saja. “Kami bukan ingin ganti rugi besar. Kami hanya ingin tempat yang aman untuk bekerja dan hidup,” ujar Siti, seorang pedagang kue yang kehilangan seluruh peralatan dan resep turun-temurun.
Pasar Jiung, yang selama puluhan tahun menjadi pusat ekonomi mikro bagi ribuan keluarga di Kemayoran, kini tinggal menjadi tanda di atas tanah yang masih panas.















