Sumbawanews.com,- Di depan kantor Badan Gizi Nasional (BGN) di Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, deretan karangan bunga berjajar rapi menyambut pelantikan kepala baru, Nanik S. Deyang, yang ditunjuk Presiden Prabowo Subianto menggantikan Dadan Hindayana. Acara pergantian pimpinan yang seharusnya dipenuhi ucapan selamat itu justru menjadi sorotan karena satu karangan bunga yang berbeda — bukan sekadar pujian, tapi sebuah pernyataan tegas.
Karangan bunga itu, yang mengatasnamakan Gema Kosgoro, bertuliskan: *“Terima kasih Bapak Presiden atas dipecatnya Dadan-Sony-Lodewyk. Selamat bertugas pimpinan BGN yang baru.”* Pesan itu langsung menarik perhatian warga yang melintas, termasuk para pengemudi ojek daring yang berhenti sejenak untuk memotret tulisan itu dengan ponsel mereka.
Pesan tersebut tidak hanya menyebut nama Dadan Hindayana, mantan kepala BGN yang dicopot, tapi juga menyiratkan adanya dua tokoh lain — Sony dan Lodewyk — yang diduga terlibat dalam kasus yang memicu intervensi hukum. Hal ini sejalan dengan laporan bahwa Kejaksaan Agung tengah melakukan penggeledahan di kantor BGN pada hari yang sama, meski belum ada pernyataan resmi mengenai identitas ketiga nama tersebut atau dugaan pelanggaran yang mereka hadapi.
Karangan bunga lainnya, dari institusi pelat merah seperti Peruri dan BNI, memang berisi ucapan resmi dan hangat. Tapi yang satu ini, dengan nada yang tajam dan tanpa embel-embel diplomasi, menjadi simbol terselubung dari ketidakpuasan terhadap tata kelola lama. Di tengah suasana yang seharusnya seremonial, muncul suara publik yang tak lagi bisa dibungkam — lewat bunga, pita, dan kata-kata yang sengaja diletakkan di tempat paling strategis: pintu masuk lembaga yang sedang berubah.
Pengamat kebijakan publik menyebut kejadian ini sebagai bentuk baru dari partisipasi sipil: bukan lewat demonstrasi, tapi melalui simbol yang elegan namun menghantam. “Ini adalah pesan yang tidak bisa diabaikan,” ujar seorang akademisi dari Universitas Indonesia yang memantau dinamika BGN. “Ketika masyarakat memilih bunga sebagai media protes, itu berarti mereka percaya bahwa institusi masih bisa didengar — meski dengan cara yang tak biasa.”
Nanik Deyang, yang baru saja dilantik, belum memberikan komentar resmi terkait karangan bunga itu. Namun, dalam sambutan pelantikannya, ia menekankan komitmen untuk “memperbaiki tata kelola, memulihkan kepercayaan publik, dan memprioritaskan kesehatan gizi rakyat sebagai misi utama.” Kalimat itu, bagi sebagian pengamat, terdengar seperti respons tak langsung terhadap tekanan yang baru saja muncul di ambang pintu kantornya.
Sementara itu, Kejaksaan Agung membenarkan bahwa operasi penyelidikan di BGN masih berlangsung, meski menolak mengungkap detail kasusnya. Dengan demikian, karangan bunga itu bukan sekadar dekorasi — ia menjadi dokumen politik yang tak terduga, menyimpan pertanyaan besar: Siapa sebenarnya Sony dan Lodewyk? Dan apa yang terjadi di balik layar yang membuat presiden memutuskan untuk membersihkan jajaran pimpinan BGN sebelum program MBG (Makanan Bergizi) diluncurkan ulang?
Di tengah hiruk-pikuk politik dan hukum, satu hal jelas: di Jakarta, bunga bisa lebih berbicara daripada pidato.















