Sumbawanews.com,- Seorang kakek berusia 70 tahun, Abd Kadir, hampir menjadi korban maut ketika plafon rumahnya runtuh menimpa punggungnya saat ia tertidur lelap di tengah kobaran api. Kejadian tragis ini terjadi di Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, pada Minggu (14/6/2026) sekitar pukul 08.00 Wita.
Rumah semi-permanen milik Abd Kadir yang terletak di wilayah Wonomulyo tiba-tiba dilalap api. Warga sekitar mendengar teriakan panik dan langsung bergerak menyelamatkan korban yang tak sadarkan diri di bawah reruntuhan kayu dan atap yang terbakar. Menurut saksi mata, Zakaria, korban sedang beristirahat sendirian di rumah setelah pulang dari masjid, sementara istrinya, Hasanah (50), sedang berkunjung ke keluarganya.
“Korban sempat terkena reruntuhan plafon yang terbakar. Terluka pada bagian punggung,” ujar Zakaria, yang ikut membantu evakuasi.
Api yang berkobar cepat karena struktur rumah yang mudah terbakar berhasil dipadamkan setelah sejam berjuang melawan kobaran. Tim pemadam kebakaran mengerahkan lima unit mobil, dibantu warga yang berbondong-bondong membawa alat sederhana seperti ember dan selang. Namun, tak ada yang bisa menyelamatkan rumah beserta seluruh isi dalamnya—semuanya hangus menjadi abu.
Kapolsek Urban Wonomulyo, AKP Sandy Indrajatiwiguna, mengonfirmasi bahwa kebakaran diduga bermula dari korsleting listrik, meski penyelidikan lebih lanjut masih berlangsung. “Korban selamat karena warga sigap. Tapi ini peringatan keras: rumah-rumah tua dan bahan mudah terbakar butuh perhatian lebih, terutama bagi lansia yang tinggal sendirian,” ujar Sandy.
Abd Kadir kini menjalani perawatan medis ringan di puskesmas terdekat. Ia mengalami luka bakar ringan dan memar akibat benturan, namun kondisinya stabil. Keluarga dan tetangga berencana mengumpulkan bantuan untuk membantunya membangun kembali rumah sederhana yang layak.
Kejadian ini mengingatkan betapa rentannya lansia dalam bencana rumah tangga—terutama ketika tinggal sendiri, dengan akses terbatas, dan lingkungan yang tak lagi memadai. Di tengah gempuran urbanisasi dan perubahan iklim, insiden seperti ini bukan sekadar kecelakaan, tapi tanda bahaya sistemik yang perlu dijawab dengan kebijakan perlindungan nyata, bukan hanya belas kasih.

















