Sumbawanews.com,- Di tengah hiruk-pikuk Jalan Ahmad Yani, Brebes, seorang perempuan lanjut usia berperan sebagai pahlawan tak terduga. Kusriyati, 65, juru parkir sekaligus penjual minuman keliling, berhasil menggagalkan pencurian uang tunai senilai Rp3,6 miliar yang sedang diparkir dalam mobil Pajero Sport milik Kliwon Alwawan, warga Desa Kluwut, Kecamatan Bulakamba.
Kejadian bermula pada Senin, 15 Juni, sekitar pukul 15.00 WIB. Kliwon baru saja mengambil uang dari salah satu bank lokal—jumlahnya tepat Rp3,6 miliar—untuk keperluan bisnis. Di jalan pulang, ia curiga melihat dua pengendara motor terus mengikuti mobilnya. Was-was, ia memutuskan memarkirkan kendaraan di depan kantor bank lain yang ramai, berharap pelaku akan mundur.
Tapi saat Kliwon masuk ke dalam bank untuk memastikan keamanan, dua pelaku langsung bertindak. Salah satunya memecahkan kaca jendela mobil, lalu mengambil bungkusan plastik berisi tumpukan uang rupiah yang diletakkan di jok belakang.
Kusriyati, yang sedang menjaga area parkir di seberang kantor bank, langsung menyadari gerakan mencurigakan itu. Tanpa ragu, ia berteriak keras, “Pencuri! Pencuri!” Teriakannya mengejutkan warga sekitar yang langsung berdatangan. Panik, pelaku berusaha melarikan diri dengan motor—tapi bungkusan uang yang dibawa tersangkut di tangan pembonceng, hingga terseret beberapa meter di aspal. Uang pun berserakan di jalan.
Kliwon yang mendengar teriakan itu bergegas keluar. Ia melihat kaca mobilnya pecah dan uangnya tersebar di tanah. Dengan hati berdebar, ia langsung menghitungnya. Alhamdulillah, seluruh uang—Rp3,6 miliar—masih utuh.
“Saya tak menyangka ada yang berani berteriak. Bahkan sampai pelaku sampai terseret karena uangnya terjepit di motor,” kata Kliwon.
Sebagai bentuk terima kasih, Kliwon memberi Kusriyati uang sebesar Rp100 ribu. Tapi perempuan yang ditinggal suaminya sejak lima tahun lalu itu tak menyimpannya sendiri. Ia membaginya rata kepada tiga rekan seprofesi: dua juru parkir lain dan seorang tukang ojek. Masing-masing dapat Rp25 ribu.
“Saya cuma berbuat apa yang seharusnya dilakukan. Uang ini hasil kerja keras mereka juga. Saya tidak bisa menikmatinya sendiri,” ujar Kusriyati, ibu dari lima anak, yang kini bertahan hidup dengan pekerjaan ganda: jukir dan berjualan minuman di pinggir jalan.
Kisahnya kini menjadi simbol keberanian sederhana di tengah kota yang sering lalai menghargai pekerja informal. Di balik seragam sederhana dan sepatu usang, Kusriyati membuktikan bahwa keberanian tak selalu datang dari jabatan atau kekuatan fisik—tapi dari hati yang tak mau diam saat kejahatan terjadi.















