Sumbawanews.com,- Di tengah deru teknologi yang terus membanjiri kehidupan sehari-hari—dari kulkas pintar hingga boneka seks berkecerdasan buatan—sebuah gerakan diam-diam sedang berkembang: orang-orang mulai melepas smartwatch mereka, dan memilih sesuatu yang jauh lebih sederhana. Bukan karena teknologi gagal, tapi karena terlalu banyak memberi.
Di toko buku Barnes & Noble, generasi muda kini lebih sering terlihat memegang buku cetak dan piringan vinil daripada menatap layar ponsel. Di jalanan, kamera film dan pemutar kaset kembali populer. Dan kini, di pergelangan tangan, tren serupa terjadi: orang-orang meninggalkan jam pintar yang penuh notifikasi, dan beralih ke jam mekanik, gelang fitness tanpa layar, atau bahkan cincin pintar yang tak pernah berbunyi.
“Smartwatch membuatku terikat pada hal-hal yang seharusnya ia bebaskan dariku,” tulis seorang pengguna di Reddit, merangkum perasaan banyak orang. Dulu, jam pintar dijanjikan sebagai alat untuk tetap terhubung tanpa harus mengambil ponsel. Kini, justru sebaliknya: pergelangan tangan menjadi pangkalan notifikasi yang tak pernah berhenti—email, pesan, pemberitahuan olahraga, bahkan peringatan tidur yang tak akurat. “Saya tidak ingin pergelangan tangan saya berbicara dengan saya,” ujar seorang pengguna Whoop. “Ponsel saja sudah terlalu banyak gangguan.”
Masalahnya bukan hanya gangguan. Fitur yang terus bertambah justru membuat pengguna terjebak dalam siklus obsesi data. Seorang pengguna Garmin mengaku terus memeriksa layar selama berolahraga, memastikan setiap repetisi tercatat—hingga ia lupa menikmati gerakannya sendiri. Sementara itu, data tidur, stres, dan pemulihan yang ditampilkan jam pintar hanyalah estimasi algoritmik, bukan pengukuran medis. Bagi sebagian orang, angka-angka itu justru menambah kecemasan, bukan menguranginya.
Harga juga jadi pertimbangan. Apple Watch Series 11 dijual mulai $399, Samsung dan Google menawarkan produk sejenis dengan harga serupa. Padahal, untuk pelacakan kesehatan dasar, alternatif seperti Fitbit Air ($100) atau CMF Watch 3 Pro dari Nothing menawarkan fungsi serupa dengan harga sepertiganya. Bahkan, cincin pintar seperti Oura Ring 5 atau Samsung Galaxy Ring—meski harganya mendekati $400—menawarkan pelacakan tidur yang lebih akurat tanpa layar, tanpa getaran, tanpa godaan untuk terus menatapnya.
Di jalan, risiko pun muncul. Studi medis menunjukkan bahwa menatap jam pintar saat mengemudi justru lebih mengalihkan perhatian daripada melihat ponsel di dasbor. Karena ukurannya kecil dan posisinya dekat mata, setiap kilatan notifikasi memaksa pengemudi untuk mengalihkan pandangan lebih lama—dan lebih sering.
Sementara itu, estetika menjadi faktor tak terduga. Jam analog tetap menjadi pilihan elegan di acara formal, di kantor, atau bahkan saat makan malam romantis. Gelang fitness tanpa layar bisa dipakai bersama jam mekanik, memberi kebebasan: satu untuk tampilan, satu untuk data. “Saya bisa memakai jam mekanik dan benar-benar hadir di momen itu,” kata seorang pengguna Whoop. “Gelangnya yang menghitung langkah dan tidur, tanpa mengganggu.”
Dan yang paling menarik: jam mekanik tak perlu diisi ulang. Tak ada pembaruan perangkat lunak yang membuatnya usang. Tak ada langganan bulanan. Tak ada algoritma yang menilai kualitas tidurmu. Hanya jarum yang bergerak, tenang, dan konsisten.
Casio, dengan jam-jamnya yang dijual mulai $30, menjadi simbol gerakan ini: sederhana, andal, dan abadi. Di toko perhiasan, di pasar loak, di rak-rak department store, pilihan jam analog tak pernah habis. Mereka tak menjanjikan dunia. Tapi mereka juga tak mencuri perhatianmu—dan itulah yang justru membuatnya berharga.
Di tengah hiruk-pikuk teknologi, kembali ke yang sederhana bukanlah kemunduran. Ia adalah pilihan sadar: untuk hidup lebih tenang, lebih hadir, dan lebih bebas dari keharusan untuk selalu terhubung.

















