Sumbawanews.com,- Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan kekesalannya terhadap pernyataan Mojtaba Kalian, seorang analis politik Iran, yang menyebutnya sebagai sosok “putus asa” dalam upaya mempertahankan pengaruh global. Kalian, yang dikenal sebagai tokoh pro-rezim Teheran, menyampaikan komentar itu dalam sebuah wawancara televisi yang ditayangkan pada akhir pekan lalu, di mana ia menilai kebijakan luar negeri Trump—terutama terkait sanksi terhadap Iran dan pendekatan “America First”—telah gagal membangun kembali kekuatan AS di kancah internasional.
Trump, yang saat ini masih aktif dalam dunia politik sebagai calon presiden dari Partai Republik untuk pemilu 2024, langsung merespons melalui platform Truth Social. Dalam unggahan berbahasa Inggris yang penuh emosi, ia menyebut pernyataan Kalian sebagai “kebodohan klasik dari para pengecut yang takut pada keberhasilan Amerika.” Ia menegaskan bahwa kebijakannya justru memaksa Iran untuk kembali ke meja negosiasi, meskipun kesepakatan nuklir 2015 telah dicabutnya pada 2018.
“Mereka bilang saya putus asa? Lihatlah: ekonomi Iran hancur, mata uangnya runtuh, dan rakyatnya berdemo. Saya tidak putus asa—saya menang,” tulis Trump, merujuk pada inflasi yang melonjak hingga 40% di Iran dan protes massal yang meletus di beberapa kota besar sejak 2022.
Analisis dari Institut Studi Strategis Washington menunjukkan bahwa meskipun sanksi AS memang memberi tekanan ekonomi besar pada Iran, efek jangka panjangnya justru memperkuat ketergantungan Teheran pada China dan Rusia. Namun, Trump menolak anggapan bahwa pendekatannya gagal. “Kami tidak ingin perjanjian yang merugikan. Kami ingin kekuatan. Dan kami punya itu,” tegasnya.
Kalian, yang merupakan anggota Dewan Keamanan Nasional Iran versi kelompok pro-rezim, sebelumnya dikenal karena sering mengkritik kebijakan Barat dengan nada provokatif. Respons Trump terhadap pernyataannya ini dianggap sebagai bagian dari strategi komunikasi politiknya yang konsisten: mengalihkan fokus dari kritik internal ke konfrontasi simbolis dengan lawan luar.
Sementara itu, pemerintah Iran belum memberikan tanggapan resmi terhadap komentar Trump, tetapi media negara itu tetap memutar ulang wawancara Kalian sebagai bukti “kegagalan moral dan strategis” AS di bawah kepemimpinan Trump. Di Washington, para penasihat keamanan nasional mengaku tidak khawatir—mereka lebih fokus pada upaya mempertahankan koalisi internasional untuk mengawasi program nuklir Iran, terlepas dari retorika yang memanas.

















