Sumbawanews.com,- Pemerintah Kabupaten Jember secara resmi menjalin kemitraan strategis sebagai kota kembar dengan Jinhua, Tiongkok, dalam pertemuan bersejarah di Pendapa Wahyawibawagraha, Selasa, 2 Juni 2026. Kedatangan Konsul Jenderal Republik Rakyat Tiongkok di Surabaya, Ye Su, dan Wakil Ketua Komite Konferensi Konsultatif Politik Kota Jinhua, Yang Jian Ming, menjadi titik balik penting bagi daerah yang selama ini dikenal sebagai lumbung pangan dan pusat pendidikan pesantren.
Bupati Muhammad Fawait, yang akrab disapa Gus Fawait, menyambut hangat delegasi asal Tiongkok itu dengan pidato yang menggabungkan kearifan lokal dan visi global. “Selamat datang di Jember. Semoga Bapak-Ibu betah, dan kembali lagi ke kota yang mengajarkan: *Uthlubul ilma walau bish-shiin*—tuntutlah ilmu, bahkan sampai ke negeri Tiongkok,” ujarnya, merujuk pada hadis yang menjadi fondasi semangat belajar masyarakat Jember.
Dalam pertemuan selama 18 menit, Gus Fawait memaparkan potensi unggulan daerahnya: jagung, kopi robusta, edamame, okra, tembakau, hingga cerutu yang telah menembus pasar ekspor. Tapi ia menekankan, kerja sama ini bukan sekadar transaksi ekonomi. “Ini bukan hanya *Sister City*. Kami ingin *Sister University*, *Sister School*, bahkan *Sister Hospital*—kolaborasi nyata yang menyentuh kehidupan rakyat,” tegasnya.
Jember, kata Gus Fawait, memiliki kekuatan ganda: sumber daya alam yang melimpah dan sistem pendidikan yang kuat, dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi dan ratusan pondok pesantren. Ia ingin kerja sama dengan Jinhua menjadi jembatan pertukaran pengetahuan, teknologi pertanian modern, pengembangan UMKM, hingga kolaborasi kesehatan publik.
Para akademisi pun memberi apresiasi tinggi terhadap pendekatan ini. Agus Trihartono, Guru Besar Hubungan Internasional Universitas Jember, menyebut kerja sama ini sebagai “investasi kepercayaan jangka panjang.” “Hubungan antarnegara sering kali baru menunjukkan buahnya setelah lima, sepuluh, bahkan dua puluh tahun. Yang penting, hari ini kita membangun fondasinya dengan benar,” katanya.
Irfan Kharisma Putra, akademisi dari Universitas Brawijaya, menilai keberhasilan Jember bukan hanya pada isi perjanjian, tapi pada cara menyampaikannya. “Jember tidak datang sebagai peminta bantuan. Ia datang sebagai mitra yang percaya diri, punya nilai, dan siap berbagi,” ujarnya. Ia menyoroti gestur nonverbal Gus Fawait—jabat tangan tegas, tatapan penuh keyakinan, postur tubuh sejajar—yang secara halus mengirim pesan: “Kami bukan pihak lemah yang menunggu belas kasihan, tapi mitra setara yang ingin tumbuh bersama.”
Dalam perspektif diplomasi modern, kata Irfan, simbol-simbol itu lebih berarti daripada tanda tangan di atas kertas. “Investor dan mitra internasional tidak hanya melihat angka. Mereka melihat kepemimpinan. Mereka melihat keberanian. Dan di Jember, hari ini, mereka melihatnya dalam diri Gus Fawait.”
Dengan langkah ini, Jember tak lagi hanya dikenal sebagai kota tembakau atau kota pesantren. Ia kini masuk peta global sebagai daerah yang mampu membuka diri, berbicara dengan percaya diri, dan menawarkan solusi—bukan hanya permintaan. Kemitraan dengan Jinhua bukan sekadar perjanjian, tapi awal dari sebuah narasi baru: bahwa daerah pinggiran bisa menjadi pusat inisiatif, dan bahwa kekuatan lokal bisa menjadi kekuatan global.

















