Sumbawanews.com,- Ribuan demonstran ultra-Ortodoks Yahudi menyerbu kantor polisi di Beit Shemesh, Israel, dalam protes massal terhadap penangkapan seorang pria yang dianggap meninggalkan wajib militer. Aksi ricuh yang berlangsung siang hari itu memicu respons keras aparat keamanan: bom suara dan gas air mata diledakkan untuk membubarkan kerumunan yang mengamuk. Para demonstran, yang mengenakan pakaian tradisional hitam-putih dan topi bulu khas, berteriak-teriak menuntut kebebasan bagi sang tahanan, sambil mengecam kebijakan pemerintah yang dianggap menindas komunitas religius.
Insiden ini terjadi di tengah memanasnya ketegangan sosial di dalam Israel, di mana konflik antara kelompok sekuler dan ultra-Ortodoks semakin dalam, terutama terkait isu wajib militer dan otonomi agama. Pemerintah berulang kali berjanji menegakkan hukum secara adil, tetapi kelompok religius menilai tindakan penangkapan itu sebagai serangan sistematis terhadap cara hidup mereka.
Sementara itu, di luar perbatasan, eskalasi militer terus memburuk. Amerika Serikat mengklaim telah menyerang situs radar dan drone Iran di pulau Qeshm dan Goruk, sebagai respons terhadap ancaman yang meningkat terhadap kepentingan regional. Di Kuwait, pihak berwenang melaporkan serangan drone dan rudal “hostil” yang menargetkan infrastruktur strategis, menambah daftar negara yang terlibat dalam spiral konflik yang kian meluas.
Dengan ketegangan internal dan eksternal yang saling menguatkan, Israel kini berada di persimpangan berbahaya—di satu sisi menghadapi pemberontakan domestik dari komunitas religius, di sisi lain terjebak dalam jaringan konflik regional yang tak kunjung reda.















