Sumbawanews.com,- Serangan udara Israel terhadap wilayah selatan Lebanon pada Senin (14/8/2023) menewaskan setidaknya 32 orang, termasuk perempuan dan anak-anak, dalam insiden paling mematikan sejak gencatan senjata sementara antara Israel dan Hezbollah dimulai seminggu lalu. Serangan yang berlangsung dalam hitungan menit itu menghantam tiga desa di kawasan Tyre dan Marjayoun, menghancurkan rumah-rumah, kendaraan, dan sebuah puskesmas sementara warga masih berada di dalam rumah atau berusaha menyelamatkan diri.
Menurut otoritas kesehatan Lebanon, korban tewas terdiri dari 12 anak-anak, tujuh perempuan, dan sembilan laki-laki dewasa. Lebih dari 70 orang lainnya mengalami luka-luka serius dan dilarikan ke rumah sakit terdekat yang sudah kelebihan kapasitas. Para saksi mata melaporkan bahwa pesawat tempur Israel melepaskan rudal secara berurutan, tanpa peringatan, saat langit masih gelap dan warga belum sempat bangun.
Pemerintah Lebanon mengecam serangan itu sebagai pelanggaran nyata terhadap kesepakatan gencatan senjata yang dijamin oleh Amerika Serikat dan Prancis. “Ini bukan kesalahan takdir. Ini adalah kejahatan perang yang terencana,” tegas Menteri Pertahanan Lebanon, Ali Hassan Khalil, dalam konferensi pers darurat. Ia menambahkan bahwa pihaknya telah mengirimkan bukti video dan lokasi serangan ke PBB sebagai dasar untuk meminta penyelidikan internasional.
Sementara itu, militer Israel tetap membantah bahwa serangan itu melanggar kesepakatan, dengan menyatakan bahwa target mereka adalah “infrastruktur militer Hezbollah yang beroperasi secara ilegal di zona demiliterisasi.” Namun, para pengamat militer menunjukkan bahwa lokasi yang diserang justru berada jauh dari posisi militer Hezbollah, dan tidak ada indikasi aktivitas senjata di sekitar titik serangan sebelumnya.
Kerusakan luas di desa-desa tersebut memicu kemarahan massal di seluruh Lebanon. Ribuan orang turun ke jalan di Beirut, Sidon, dan Baalbek, menuntut penghentian agresi Israel dan penarikan pasukan asing dari wilayah perbatasan. Di tingkat regional, Iran dan Suriah mendesak Dewan Keamanan PBB untuk segera bertindak, sementara Uni Eropa meminta kedua pihak untuk kembali ke meja perundingan.
Gencatan senjata yang sempat menjanjikan ketenangan bagi jutaan warga sipil di selatan Lebanon kini kembali terancam. Para pengungsi yang baru saja kembali ke rumah mereka setelah berbulan-bulan mengungsi kini terpaksa lari lagi—kali ini tanpa harapan bahwa keamanan akan bertahan lebih dari beberapa jam.
PBB memperingatkan bahwa eskalasi ini bisa memicu konflik regional yang jauh lebih luas. “Kita berada di ambang kehancuran,” kata koordinator kemanusiaan PBB untuk Timur Tengah, Lynn Hastings. “Setiap serangan di wilayah ini bukan hanya soal korban jiwa—tapi soal masa depan seluruh kawasan.”















