Sumbawanews.com,- Dalam langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi jangka panjang, Malaysia berhasil mengamankan janji pasokan minyak, gas, dan diesel dari Rusia selama minimal dua dekade. Kesepakatan ini diumumkan oleh Perdana Menteri Anwar Ibrahim usai kunjungan resmi ke Rusia dan Turkmenistan pada minggu lalu, di tengah gejolak geopolitik yang mengganggu rantai pasokan energi global.
Di sela KTT ASEAN-Rusia di Kazan pada 17–18 Juni, Anwar bertemu langsung dengan Presiden Vladimir Putin dan memperoleh jaminan tertulis atas kelancaran pasokan energi. “Presiden Putin menegaskan komitmen jangka panjang Rusia untuk memenuhi kebutuhan energi Malaysia selama 20 tahun ke depan,” ujar Anwar dalam acara peletakan batu pertama Setia Fontaines Industrial Park di Penang, Sabtu (20/6). Ia menekankan bahwa kesepakatan ini lahir dari hubungan persahabatan dan saling percaya antar-negara, bukan sekadar transaksi komersial.
Langkah ini menjadi respons strategis Malaysia terhadap ketidakstabilan pasokan energi akibat konflik di Timur Tengah. Setelah serangan terhadap Iran pada Februari lalu mengancam jalur strategis Selat Hormuz, negara-negara Asia Tenggara berlomba mencari alternatif sumber energi. Malaysia, yang tetap mempertahankan kebijakan netralitas sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, menjadi salah satu dari beberapa negara ASEAN yang secara terbuka memperdalam kemitraan energi dengan Moskow—meski berpotensi menimbulkan tekanan diplomasi dari sekutu Barat.
Tak hanya dengan Rusia, Malaysia juga memperluas jaringan energinya ke Turkmenistan, salah satu produsen gas alam terbesar di dunia. Selama kunjungan ke Ashgabat pada 18–19 Juni, Anwar menyaksikan penandatanganan sejumlah perjanjian strategis antara perusahaan energi nasional Petronas dan badan usaha milik negara Turkmenistan—Turkmennebit dan Hazarnebit. Melalui anak perusahaannya, Petronas Carigali (Turkmenistan) Sdn Bhd, perusahaan Malaysia akan mengembangkan dua blok lepas pantai besar di Laut Kaspia, yakni Blok 19 dan 20, serta melakukan studi seismik dua dimensi di Blok Lepas Pantai Utara.
Pengembangan ini bukanlah langkah baru bagi Petronas. Perusahaan ini telah beroperasi di Turkmenistan sejak 1996, mengelola Blok 1 di Laut Kaspia berdasarkan skema bagi hasil. Kini, kerja sama diperluas ke wilayah yang lebih luas dan berpotensi tinggi, sekaligus memperkuat posisi Malaysia sebagai pemain energi global yang diakui, bukan hanya sebagai konsumen.
Anwar menekankan bahwa keberhasilan ini akan membuka peluang ekspor energi ke pasar utama Asia, terutama China, Jepang, dan Korea Selatan—negara-negara dengan permintaan energi yang terus meningkat. “Kami tidak hanya menjamin kebutuhan domestik, tetapi juga membangun fondasi untuk menjadi pusat distribusi energi di kawasan,” ujarnya, dikutip Bernama.
Malaysia, yang sejak lama mengekspor energi lebih banyak daripada yang diimpor, memiliki cadangan gas alam yang besar, terutama di negara bagian Sarawak yang menyumbang lebih dari 60 persen total cadangan nasional. Dengan akses baru ke sumber energi di Laut Kaspia, negara ini semakin siap menghadapi tantangan ketahanan energi di masa depan, sekaligus memperkuat otonomi strategisnya di tengah persaingan global yang semakin kompleks.
Kesepakatan ini bukan sekadar transaksi komersial—ia adalah pernyataan politik: Malaysia memilih keamanan energi di atas tekanan geopolitik, dan membangun jembatan antarperadaban untuk menjamin masa depan rakyatnya.















