Sumbawanews.com,- Anggota parlemen Israel, Ariel Kellner, secara terbuka menyatakan Turki sebagai musuh negara dan mengecam Presiden Recep Tayyip Erdogan sebagai sosok berbahaya yang berambisi menghidupkan kembali kekhalifahan Islam. Pernyataan tajam itu disampaikan Kellner dalam wawancara dengan stasiun radio Galei pada Kamis (11/6), memperdalam ketegangan diplomatik antara dua negara yang sebelumnya pernah menjalin hubungan erat.
“Turki adalah musuh dalam segala aspek, dan Erdogan adalah diktator yang membenci Israel,” tegas Kellner, dikutip dari Middle East Eye. Ia menambahkan, kebijakan Ankara yang konsisten mendukung Palestina dan mengutuk operasi militer Israel di Suriah serta Lebanon telah mengubah persepsi di Tel Aviv—dari kritik terhadap kebijakan menjadi ancaman strategis terhadap keamanan nasional.
Pernyataan ini bukanlah yang pertama dari kalangan elit Israel. Menteri Budaya dan Olahraga Miki Zohar sebelumnya juga menyerukan agar Turki diperlakukan sebagai negara musuh, dengan peringatan tegas: “Jika Turki memilih jalan perang, mereka akan membayar harga yang sangat mahal. Israel tahu cara mempertahankan diri.”
Ketegangan ini memuncak setelah Erdogan mengecam serangan Israel terhadap wilayah Suriah dan Lebanon sebagai ancaman terhadap stabilitas regional dan kemanusiaan global. “Israel harus segera menghentikan agresinya. Ini adalah kewajiban moral seluruh umat manusia,” ujar Erdogan, menegaskan posisi Turki sebagai salah satu suara paling vokal dalam menentang kebijakan militer Israel sejak konflik Gaza meletus pada Oktober 2023.
Sejak itu, Turki tidak hanya mengutuk secara lisan, tetapi juga mengambil langkah konkret: memutus hubungan perdagangan dengan pemerintahan Benjamin Netanyahu dan menjadi salah satu negara paling aktif dalam memobilisasi dukungan internasional bagi rakyat Palestina. Lebih dari 72.000 jiwa tewas di Gaza, jutaan orang mengungsi, dan infrastruktur sipil hancur berantakan—kondisi yang menurut Ankara merupakan kejahatan perang yang tak bisa diabaikan.
Sementara itu, di Israel, narasi yang berkembang semakin mengarah pada pandangan sektarian: Turki bukan lagi sekadar mitra yang berbeda pendapat, tetapi aktor yang secara aktif berkomplot melawan keberlangsungan negara Yahudi. Kellner dan sejumlah politisi lainnya mulai membangun narasi bahwa Erdogan menggunakan isu Palestina sebagai alat untuk memperluas pengaruh Islam di Timur Tengah—sebuah ancaman yang, menurut mereka, harus dihadapi dengan tegas.
Dalam konteks geopolitik yang semakin terpecah, pernyataan Kellner bukan sekadar emosi politik. Ia mencerminkan pergeseran strategis di kawasan: dari diplomasi yang masih bisa bernegosiasi, menuju pengakuan eksplisit bahwa hubungan antara dua negara telah memasuki fase konfrontasi terbuka. Dan di tengah ketidakpastian yang mengguncang Timur Tengah, setiap kata yang diucapkan di Knesset kini beresonansi jauh melampaui batas parlemen—menuju medan perang yang lebih luas, lebih berbahaya, dan lebih tak terduga.

















