Sumbawanews.com,- Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara resmi memerintahkan militer negaranya untuk memperluas penguasaan wilayah di Jalur Gaza hingga mencapai 70 persen, sebuah langkah yang memperdalam krisis kemanusiaan di kawasan yang sudah hancur akibat perang berkepanjangan. Pernyataan itu disampaikan Netanyahu pada Kamis, 28 Mei 2026, dalam sebuah pertemuan di permukiman Yahudi di Tepi Barat yang diduduki, di mana ia menegaskan bahwa operasi militer Israel akan terus berlanjut “langkah demi langkah.”
Sebelumnya, Israel mengklaim telah mengendalikan sekitar 64 persen wilayah Gaza—angka yang sudah melampaui batas yang disepakati dalam gencatan senjata Oktober 2023 yang dimediasi Amerika Serikat. Menurut laporan Reuters, pasukan Israel secara sepihak memindahkan tanda batas “Garis Kuning” lebih jauh ke dalam wilayah yang sebelumnya dikuasai Hamas, sebuah tindakan yang dianggap sebagai upaya mengubah realitas territorial secara permanen. Peta militer yang dirilis pada Maret 2026 memperkuat indikasi bahwa Israel telah memperluas zona kontrolnya secara sistematis.
Netanyahu menyebut wilayah-wilayah yang direbut sebagai “zona penyangga” untuk mencegah serangan militer di masa depan. Namun, para pengamat dan warga Palestina menilai langkah ini bukan sekadar strategi keamanan, melainkan bagian dari rencana lebih besar: pengusiran sistematis penduduk sipil dari Gaza. Pernyataan Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant yang mendukung “migrasi sukarela” warga Gaza—seperti dilansir Japan Today—memperkuat kekhawatiran bahwa pemerintah Israel sedang mempersiapkan skenario pengosongan wilayah.
Di tengah perluasan wilayah, serangan udara dan darat Israel terus berlanjut, dengan fokus utama pada pemimpin senior Hamas. Pada Selasa lalu, Israel mengumumkan pembunuhan kepala sayap bersenjata Hamas, hanya 10 hari setelah menewaskan pendahulunya. Pada Rabu malam, serangan baru menewaskan sedikitnya 10 orang, termasuk lima anak-anak, dan melukai 18 lainnya di kamp-kamp pengungsian. Korban-korban itu jatuh saat warga Palestina tengah merayakan Idul Adha—hari suci yang seharusnya dipenuhi kebahagiaan, tetapi justru menjadi malam penuh kehancuran.
“Kami keluar karena suara ledakan. Puing-puing jatuh menimpa tenda kami. Kami terjebak selama satu jam sebelum bisa keluar,” kata Etidal Al-Za’im, seorang ibu yang mengungsi di Maghazi, Gaza Tengah. Sementara itu, Abu Azam, seorang warga lain, menyampaikan keputusasaan yang kini menjadi narasi harian: “Di Gaza, tidak ada tempat yang aman. Anda bisa tertembak di jalan, di rumah, di rumah sakit, atau bahkan saat pergi ke pasar.”
Menurut otoritas kesehatan Gaza, lebih dari 900 orang tewas sejak gencatan senjata berlaku pada Oktober 2023. Sementara itu, Israel melaporkan empat tentaranya tewas dalam serangan balasan milisi selama periode yang sama. Namun, angka-angka ini hanya mencerminkan permukaan dari krisis yang jauh lebih dalam: ratusan ribu warga sipil terperangkap di tengah reruntuhan, tanpa akses memadai terhadap makanan, air bersih, atau perawatan medis.
Pembicaraan damai yang diprakarsai Amerika Serikat—yang mencakup penarikan pasukan Israel dan pelucutan senjata Hamas—kini terjebak dalam kebuntuan. Tidak ada tanda-tanda kesepakatan akan tercapai, sementara tekanan militer justru semakin meningkat. Dengan target baru 70 persen wilayah Gaza, Netanyahu menunjukkan bahwa Israel tidak hanya bertujuan menghancurkan Hamas, tetapi juga mengubah peta geopolitik Palestina secara permanen—dengan harga yang dibayar oleh rakyat sipil yang tak bersenjata.















