Sumbawanews.com,- PERSERIKATAN Bangsa-Bangsa (PBB) resmi memasukkan Israel ke dalam daftar hitam pelaku kekerasan seksual di zona konflik, sebuah langkah historis yang memperdalam krisis hubungan antara negara itu dan lembaga internasional. Laporan tahunan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, yang dirilis pada 29 Mei 2026, mengungkapkan bahwa setidaknya 77 entitas militer, sipir penjara, polisi, dan unit khusus Israel terlibat dalam pola kekerasan seksual sistematis terhadap warga Palestina sejak 2025.
Dokumentasi PBB memverifikasi 31 kasus kekerasan seksual, mencakup 14 pria dewasa, 7 wanita, 9 anak laki-laki, dan 1 anak perempuan dari Gaza dan Tepi Barat. Korban kerap mengalami pemerkosaan berkelompok, pelucutan pakaian paksa, dan penyiksaan fisik yang disertai ancaman kematian. Para ahli PBB menyatakan, kekerasan ini bukan tindakan individu, melainkan bagian dari strategi penindasan yang terstruktur dan disengaja untuk meruntuhkan martabat serta ketahanan masyarakat Palestina.
Reem Alsalem, Pelapor Khusus PBB tentang kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan, menyebut keputusan ini sebagai “keterlambatan yang menyakitkan.” “Selama bertahun-tahun, kami telah mendokumentasikan kekerasan seksual berskala besar, sistematis, dan mengerikan—semua diverifikasi secara independen. Masuknya Israel ke daftar ini seharusnya terjadi jauh lebih awal,” ujarnya, mengutip laporan dari Al Jazeera.
Sementara itu, Alice Jill Edwards, Pelapor Khusus PBB untuk penyiksaan, mengungkapkan bahwa setidaknya 52 kasus penyiksaan dan 33 kasus kekerasan seksual telah tercatat sejak serangan 7 Oktober 2023. Ia menekankan bahwa kebijakan penahanan Israel kini berubah menjadi alat represif: penahanan paksa, pemukulan brutal, blokade bantuan kemanusiaan, hingga penggunaan anjing untuk mengintimidasi tahanan—semua dianggap melanggar hukum humaniter internasional.
Kisah-kisah korban yang diungkap lewat laporan Euro-Med Human Rights Monitor dan wawancara eksklusif dengan media internasional semakin memperkuat temuan PBB. Seorang perempuan berusia 42 tahun yang pernah ditahan di penjara Sde Teiman menceritakan bagaimana ia diikat tanpa busana selama dua hari dan diperkosa berulang kali oleh tentara Israel. “Setiap kali saya berteriak, mereka memukul saya. Sementara itu, tentara lain merekam semuanya,” katanya, seperti dikutip The Cradle.
Laporan New York Times juga mengungkapkan bahwa penjaga penjara Israel menggunakan anjing untuk menyerang dan mempermalukan tahanan Palestina—tindakan yang oleh para ahli HAM disebut sebagai bentuk kekerasan psikologis yang tak kalah mengerikan.
Reaksi dari otoritas Israel tajam dan defensif. Duta Besar Israel untuk PBB, Danny Danon, mengecam laporan itu sebagai “keterlaluan” dan mengancam akan memutus hubungan dengan Guterres. “Ini bukan keadilan, ini politik yang dibungkus sebagai moralitas,” ujarnya dalam video yang diunggah di platform X. Sementara juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel, Oren Marmorstein, menuduh PBB sebagai lembaga “korup dan dipolitisasi,” yang telah “melenceng dari prinsip dasar pendiriannya.”
Namun, kritik terhadap Israel tidak hanya datang dari PBB. Laporan-laporan independen dari organisasi HAM global, jurnalis peraih Pulitzer, hingga saksi mata yang selamat semakin memperkuat narasi bahwa kekerasan seksual di penjara-penjara Israel bukanlah insiden terpisah, melainkan bagian dari sistem yang terorganisir.
Dalam konteks yang lebih luas, insiden ini terjadi di tengah krisis kemanusiaan yang belum juga reda. Menurut data otoritas kesehatan Palestina, lebih dari 72.000 orang tewas sejak 7 Oktober 2023, dengan ribuan di antaranya perempuan dan anak-anak. Meski gencatan senjata telah diberlakukan, lebih dari 900 jiwa masih melayang dalam beberapa bulan terakhir.
Hubungan Israel-PBB kini berada di titik terendah sejak konflik meletus. Bagi banyak negara anggota, keputusan memasukkan Israel ke daftar hitam bukan sekadar tindakan administratif—tapi pengakuan moral bahwa kekerasan seksual sebagai senjata perang tidak bisa lagi diabaikan. Bagi Israel, itu adalah penghinaan. Bagi korban, itu adalah satu-satunya suara yang masih didengar di tengah keheningan dunia.















