Sumbawanews.com,- Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan kebutuhan mendesak bagi negaranya untuk membangun sistem persenjataan mandiri, menyusul kesepakatan historis antara Amerika Serikat dan Iran yang menandai berakhirnya konflik bersenjata antarkedua negara. Dalam pidato tertutup kepada para perwira cadangan di Tepi Barat pada 18 Juni 2026—yang baru dirilis resmi pada 23 Juni—Netanyahu menyatakan bahwa meskipun menghargai dukungan militer AS selama lebih dari tujuh dekade, Israel tidak bisa lagi bergantung pada senjata luar negeri untuk menjaga keamanannya.
“Kita harus berani berdiri sendiri,” ujar Netanyahu. “Dukungan Amerika telah menyelamatkan kita berkali-kali, tapi masa depan keamanan nasional kita tidak boleh ditentukan oleh kebijakan luar negeri negara lain.”
Pernyataan itu muncul di tengah gelombang kekhawatiran di kalangan kabinet Israel terhadap kemungkinan konsekuensi geopolitik dari kesepakatan AS-Iran, terutama terkait penghentian serangan terhadap Hezbollah di Lebanon. Sejumlah menteri mengkhawatirkan bahwa normalisasi hubungan antara Washington dan Teheran bisa melemahkan posisi strategis Israel di kawasan.
Data dari Council on Foreign Relations menunjukkan bahwa sejak berdirinya negara pada 1948, Israel telah menerima lebih dari 300 miliar dolar AS dalam bentuk bantuan militer dan ekonomi dari Amerika Serikat—jumlah terbesar yang pernah diberikan AS kepada satu negara sejak Perang Dunia II. Namun, dengan perubahan dinamika kekuatan global dan tekanan domestik untuk mengurangi ketergantungan, Netanyahu mendorong percepatan program pengembangan senjata lokal, termasuk sistem pertahanan udara, drone tempur, dan rudal balistik generasi baru.
Langkah ini bukan sekadar respons taktis, melainkan bagian dari strategi jangka panjang untuk mengubah Israel dari penerima bantuan menjadi kekuatan militer mandiri yang mampu menentukan nasibnya sendiri tanpa harus menunggu persetujuan atau kepentingan sekutu utamanya. Dalam pidatonya, Netanyahu menekankan: “Kita tidak lagi bisa membeli keamanan. Kita harus membuatnya.”
Kebijakan ini pun memicu perdebatan sengit di dalam parlemen Israel, Knesset. Sebagian kalangan memuji langkah itu sebagai keberanian strategis, sementara yang lain memperingatkan risiko biaya tinggi dan potensi keterlambatan dalam modernisasi alat utama sistem pertahanan jika produksi dalam negeri gagal memenuhi standar teknis yang dibutuhkan.
Namun, satu hal yang jelas: di tengah dunia yang berubah cepat, Israel kini memilih untuk tidak lagi menunggu keajaiban dari luar—tapi membangunnya sendiri.















