Sumbawanews.com,- Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan bahwa pembicaraan teknis antara Teheran dan Washington di Swiss berlanjut meski Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan menyerang Iran jika sekutunya di Libanon tidak menghentikan “gangguan”. Pertemuan yang berlangsung di resor Burgenstock pada 21 Juni 2026 itu, dimediasi oleh Pakistan dan Qatar, sempat terganggu oleh pernyataan Trump yang disampaikan melalui platform Truth Social.
Menurut Baghaei, saat istirahat sekitar pukul 16.30 waktu setempat, kabar ancaman Trump sampai ke ruang perundingan. Delegasi Iran langsung mengumumkan bahwa mereka tidak akan kembali ke meja perundingan empat pihak—Iran, AS, Qatar, dan Pakistan—kecuali Trump menarik pernyataannya dan meminta maaf. Namun, meski delegasi Iran meninggalkan ruang pertemuan, para mediator tetap menjalankan komunikasi intensif antara kedua belah pihak, menjaga saluran diplomasi tetap terbuka.
Pernyataan Wakil Presiden AS JD Vance yang menyatakan bahwa delegasi Iran tidak benar-benar meninggalkan proses perundingan, justru menunjukkan adanya ketidaksesuaian narasi antara Washington dan Teheran. Namun, fakta yang tak terbantahkan: dialog tetap berjalan, meski dalam bentuk yang lebih tersamar—melalui perantara, bukan langsung.
Sebelumnya, pada 18 Juni, Iran dan AS telah menandatangani memorandum jarak jauh yang menetapkan dua poin krusial: AS wajib mencabut blokade maritim terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, sementara Teheran berkewajiban memulihkan keamanan pelayaran di Selat Hormuz. Dokumen ini menjadi fondasi utama upaya mengakhiri konflik militer yang meletus sejak 28 Februari lalu.
Dalam konteks geopolitik yang semakin rapuh, keputusan Iran untuk tidak memutuskan saluran diplomasi meski dihadapkan pada retorika agresif menunjukkan strategi yang matang: memisahkan ancaman politik dari proses teknis. Sementara Trump bermain di panggung publik dengan ancaman, para diplomat di Swiss tetap bekerja di belakang layar—mengupayakan kesepakatan yang bisa menyelamatkan kawasan dari eskalasi lebih luas.
Pembicaraan ini bukan sekadar soal nuklir atau sanksi. Ini adalah ujian ketahanan diplomasi di tengah kekacauan retorika. Dan hingga kini, Swiss tetap menjadi tempat di mana keheningan lebih berbicara daripada tweet.















