Sumbawanews.com,- Teheran — Iran menegaskan akan memberikan perlakuan istimewa terhadap kapal-kapal dari Rusia dan China yang melintasi Selat Hormuz, jalur maritim strategis yang menjadi urat nadi perdagangan energi global. Pernyataan ini disampaikan oleh Ebrahim Azizi, Ketua Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, yang menekankan bahwa kedua negara tersebut bukan sekadar mitra dagang, tetapi sekutu strategis yang konsisten mendukung Teheran di tengah tekanan internasional.
Azizi menjelaskan, fasilitas khusus ini mencakup seluruh jenis kapal, baik kapal dagang maupun tanker minyak, yang berasal dari Moskow dan Beijing. Keputusan ini, menurutnya, merupakan bentuk pengakuan atas komitmen berkelanjutan kedua negara dalam mendukung Iran di berbagai sektor—mulai dari energi, infrastruktur, hingga diplomasi—khususnya selama masa sanksi yang berkepanjangan.
“China dan Rusia tidak pernah meninggalkan Iran di saat-saat paling sulit. Mereka memilih berdiri di sisi kami, bukan di sisi tekanan,” ujar Azizi dalam pernyataan resminya, Sabtu (30/5/2026). “Oleh karena itu, kami memberikan prioritas dan kemudahan khusus dalam navigasi melalui Selat Hormuz sebagai bentuk kepercayaan dan saling menghargai.”
Selat Hormuz, yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab, menjadi jalur kritis bagi sekitar 20% pasokan minyak mentah dunia. Setiap perubahan kebijakan di kawasan ini langsung memicu respons pasar global. Dengan demikian, kebijakan Iran ini bukan hanya soal kedaulatan maritim, tetapi juga sinyal geopolitik yang jelas: Teheran memperkuat aliansi strategisnya dengan kekuatan non-Barat.
Azizi juga menegaskan bahwa Iran memiliki hak penuh atas pengelolaan Selat Hormuz, karena kawasan tersebut merupakan bagian dari perairan teritorial dan wilayah geografisnya. “Ini bukan jalur internasional yang bisa dikuasai atau diatur oleh kekuatan asing. Ini adalah milik kami, dan kami berhak mengambil keputusan apa pun demi keamanan dan kepentingan nasional,” tegasnya.
Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan, terutama setelah insiden-insiden sebelumnya di mana kapal tanker asing—termasuk yang berbendera AS—dihentikan atau diawasi ketat oleh Garda Revolusi Iran (IRGC). Sementara itu, kapal-kapal dari Rusia dan China terus melintas tanpa hambatan signifikan, menunjukkan bahwa kebijakan diskriminatif terhadap negara-negara tertentu telah berjalan secara de facto.
Analisis keamanan regional menilai bahwa langkah Iran ini semakin memperkuat pola baru tatanan maritim global: di mana aliansi geopolitik menentukan akses, bukan hukum laut internasional semata. Dengan memperkuat hubungan strategisnya dengan Moskow dan Beijing, Iran tidak hanya mengamankan jalur ekspor energinya, tetapi juga membangun jaringan kekuatan yang mampu menahan tekanan dari blok Barat.
Dengan demikian, Selat Hormuz kini bukan lagi sekadar titik strategis bagi perdagangan minyak—ia telah berubah menjadi medan pertarungan diplomasi, di mana kebijakan satu negara bisa mengubah arus global. Dan bagi Iran, pilihan jelas: mitra yang setia akan diberi jalan, sementara yang dianggap musuh akan dihadapi dengan tegas.















