Sumbawanews.com,- Pada Rabu, 10 Juni 2026, Iran melancarkan serangan balasan berkoordinasi terhadap dua pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah, menggunakan kombinasi rudal jarak jauh dan drone tempur. Serangan ini menjadi respons langsung terhadap serangan udara AS yang menargetkan fasilitas strategis di wilayah Jask, Sirik, dan Qeshm, Iran, dua hari sebelumnya.
Di Bahrain, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) meluncurkan serangan drone terhadap Angkatan Laut ke-5 AS di pangkalan Manama pukul 02.30 waktu setempat. Pernyataan resmi IRGC menyebut aksi ini sebagai “tanggapan atas tindakan keji musuh.” Sirene peringatan segera berbunyi di ibu kota Bahrain, dan Kementerian Dalam Negeri setempat mengimbau warga untuk mencari tempat perlindungan. Tidak ada laporan korban sipil, tetapi kekhawatiran akan eskalasi konflik menyebar cepat di kawasan.
Di Yordania, IRGC menargetkan pangkalan udara Al-Azraq, salah satu basis utama operasi AS di Timur Tengah. Menurut pernyataan militer Iran, empat sasaran utama berhasil dihancurkan, termasuk hanggar pesawat tempur F-35 dan pusat komando kendali militer AS. Serangan dilakukan dengan rudal balistik berjarak jauh, menunjukkan peningkatan kemampuan teknologi militer Teheran dalam menjangkau target di luar wilayahnya.
Serangan ini memperdalam siklus balas-membalas yang memanas sejak Senin lalu, ketika Iran dituduh menembak jatuh helikopter Apache AS yang sedang melakukan patroli di Selat Hormuz. Presiden Donald Trump langsung mengecam aksi tersebut dan memerintahkan serangan balasan terhadap infrastruktur militer Iran di dekat Hormuz pada Selasa sore. Serangan AS merusak menara komunikasi dan dua tangki air di Sirik, yang kemudian menjadi alasan utama Iran membalas.
Konflik antara Iran dan AS, yang sempat mereda setelah gencatan senjata pada Februari lalu, kini kembali memburuk. Iran menuduh AS dan sekutunya, termasuk Israel, telah melanggar kesepakatan damai dengan serangan berulang. Sementara itu, AS menegaskan bahwa semua operasi militer dilakukan dalam rangka pertahanan diri dan perlindungan kepentingan sekutu di kawasan.
Ketegangan kini menggantung di atas kawasan Teluk, dengan sekutu AS seperti Bahrain dan Yordania menjadi sasaran langsung. Dunia menanti respons selanjutnya—apakah ini awal dari perang terbuka, atau sekadar peringatan keras yang dirancang untuk mengembalikan keseimbangan kekuatan tanpa meledak ke konflik skala besar.

















