Sumbawanews.com,- Amerika Serikat dan sekutu regional berkomitmen menyuntikkan dana hingga 300 miliar dolar AS untuk rehabilitasi ekonomi Iran, menyusul draf kesepakatan damai yang bocor ke publik. Kesepakatan ini, yang akan ditandatangani resmi di Swiss pada 19 Juni 2026, menandai lompatan sejarah dalam hubungan dua negara yang selama puluhan tahun saling berseteru.
Draf memorandum yang diakses oleh Bloomberg News mengungkapkan 14 poin utama, termasuk penghentian semua sanksi ekonomi yang selama ini membelenggu Teheran—mulai dari pembatasan minyak mentah, produk petrokimia, hingga layanan perbankan dan asuransi. Washington juga berjanji mencairkan seluruh aset Iran yang selama ini dibekukan di lembaga keuangan global, senilai puluhan miliar dolar.
Komitmen pendanaan 300 miliar dolar AS—setara dengan Rp 5.300 triliun—akan dikelola melalui mekanisme kerja sama yang masih akan dirumuskan dalam 60 hari ke depan. Dana ini diarahkan untuk membangun kembali infrastruktur energi, transportasi, dan industri strategis Iran yang telah lama terpuruk akibat tekanan sanksi sejak Revolusi Islam 1979, dan semakin parah setelah sanksi baru diberlakukan pada 2025.
Dalam Pasal Tujuh, AS secara tegas menyatakan akan mengakhiri “semua jenis sanksi yang saat ini dihadapi Republik Islam Iran,” termasuk yang dikeluarkan oleh Dewan Keamanan PBB dan Badan Energi Atom Internasional. Langkah ini diikuti dengan pemberian keringanan segera terhadap ekspor minyak mentah Iran, yang diperkirakan akan langsung memicu lonjakan pendapatan negara itu di pasar global.
Selain itu, kesepakatan ini juga mengamanatkan pencabutan blokade maritim di Selat Hormuz, jalur strategis pengiriman minyak dunia, yang selama ini menjadi alat tekanan geopolitik. Dengan akses penuh ke laut, Iran berpotensi meningkatkan ekspor minyak hingga 2,5 juta barel per hari—lebih dari dua kali lipat dari kapasitas saat ini.
Kesepakatan ini tidak hanya mengubah peta ekonomi Iran, tetapi juga menggeser keseimbangan kekuatan di Timur Tengah. Israel, yang menolak kesepakatan ini, kini berada di posisi terisolir, sementara negara-negara seperti China dan Rusia, yang selama ini menjadi mitra utama Teheran, harus menyesuaikan strategi ekonominya.
Meski demikian, proses implementasi tetap penuh tantangan. Konsensus internal di Iran, terutama di kalangan garis keras militer dan agama, masih menjadi ujian. Sementara di Washington, tekanan dari kongres yang skeptis terhadap kesepakatan dengan Teheran bisa menghambat pencairan dana.
Namun, jika semua poin terwujud, Iran akan mengalami transformasi ekonomi terbesar dalam empat dekade—dari negara yang terisolasi menjadi salah satu kekuatan ekonomi kawasan dengan akses tanpa hambatan ke pasar global. Bagi rakyat Iran yang selama bertahun-tahun hidup di bawah tekanan inflasi dan kelangkaan, ini bukan sekadar kenaikan pendapatan—ini adalah harapan baru.















