Sumbawanews.com,- Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memperingatkan bahwa Teheran akan membatalkan seluruh proses perdamaian dengan Amerika Serikat jika Washington terus melakukan tindakan provokatif. Dalam pernyataan tegasnya, Araghchi menegaskan bahwa nota kesepahaman (MoU) yang sedang dinegosiasikan—yang bertujuan mengakhiri ketegangan berkepanjangan antara kedua negara—tidak akan ditandatangani jika syarat-syarat dasar tidak dipenuhi.
“Jika ketentuan yang disepakati dilanggar, maka tidak akan ada perjanjian akhir,” tegas Araghchi, Jumat (13/6), seperti dilansir dari sumber resmi. Ancaman ini muncul di tengah upaya diplomatik intensif yang sempat menjanjikan jalan keluar dari konflik berdarah yang telah memicu kekhawatiran global terhadap meledaknya perang regional.
MoU yang tengah disusun mencakup tiga pilar utama: penghentian pengayaan uranium oleh Iran, pencabutan sanksi ekonomi yang telah membelenggu perekonomian Teheran selama bertahun-tahun, serta pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai jalur pelayaran internasional yang bebas dan aman. Selain itu, kesepakatan ini juga dirancang untuk menyelesaikan konflik berskala lebih luas, termasuk peran Iran dalam konflik di Lebanon dan kawasan Timur Tengah lainnya.
Araghchi menekankan bahwa diplomasi tidak bisa berjalan sepihak. “Ancaman harus dihentikan. Rakyat Iran harus diperlakukan dengan hormat, bukan sebagai lawan yang harus dipaksa tunduk,” ujarnya, menanggapi pernyataan-pernyataan keras dari pihak AS.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut kesepakatan yang hampir final itu sebagai “sangat kuat” dan mengklaim Iran telah setuju untuk menyerahkan program senjata nuklirnya. “Mereka tidak akan punya senjata nuklir. Mereka sudah sepakat,” kata Trump dalam konferensi pers di Gedung Putih.
Namun, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, langsung meredam klaim tersebut. Ia menegaskan bahwa baru sebagian kecil poin yang disepakati, dan banyak isu krusial—termasuk pengakuan kedaulatan Iran dan jaminan keamanan jangka panjang—masih dalam perdebatan mendalam. “Kami tidak menandatangani apa pun yang belum final,” tegasnya.
Ketegangan memuncak setelah AS menembak jatuh sebuah drone Iran hanya beberapa jam sebelum kedua pihak diperkirakan akan menandatangani kesepakatan teknis. Insiden itu dianggap Teheran sebagai sinyal ketidakseriusan Washington terhadap proses perdamaian. Bagi Iran, tindakan militer semacam itu bukan sekadar pelanggaran, tapi penghinaan terhadap proses diplomasi yang sedang berjalan.
Sementara itu, sumber diplomatik di Eropa mengatakan bahwa negosiasi masih berlangsung, meski semakin rapuh. Para mediator khawatir bahwa kegagalan kesepakatan ini bisa memicu siklus balas dendam yang melibatkan sekutu Iran di Timur Tengah, termasuk Hezbollah dan kelompok bersenjata di Yaman.
Dengan latar belakang sanksi yang mematikan, ketidakpercayaan mendalam, dan sejarah saling serang yang berdarah, langkah selanjutnya berada di tangan Washington. Bagi Iran, tidak ada lagi ruang untuk main-main. Damai atau perang—pilihan itu kini jelas: jika AS berulah, maka Iran akan kembali ke medan perang.

















