Sumbawanews.com,- Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa Indonesia dan Prancis berperan krusial dalam menjaga stabilitas global di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik. Dalam pertemuan bilateral di Istana Elysee, Paris, Prabowo menilai kedua negara tidak hanya berbagi visi serupa terhadap isu-isu internasional, tetapi juga memiliki kapasitas strategis untuk menjadi penyeimbang dalam tatanan dunia yang semakin pecah.
“Kami memiliki kesamaan prinsip—dalam perdamaian, keadilan, dan penghormatan terhadap hukum internasional,” ujar Prabowo, menekankan bahwa hubungan Indonesia-Prancis kini mencapai titik paling matang dalam sejarahnya. Ia secara khusus mengapresiasi peran Presiden Emmanuel Macron yang secara aktif mendorong kerja sama yang lebih mendalam, terutama di bidang pertahanan, sains, dan teknologi.
Salah satu langkah konkret yang diambil Indonesia adalah kebijakan baru dalam pendidikan: bahasa Prancis akan menjadi mata pelajaran wajib di semua jenjang sekolah. “Ini bukan sekadar simbol, tapi persiapan strategis. Dunia masa depan akan semakin terhubung, dan kita harus siap berdialog bukan hanya dengan bahasa, tapi dengan pemahaman,” jelas Prabowo.
Dalam pidatonya, Prabowo juga secara tegas menyatakan dukungan terhadap sikap Prancis yang memperjuangkan solusi dua negara untuk Palestina. Ia menegaskan bahwa tanpa keadilan bagi rakyat Palestina, perdamaian di Timur Tengah tak mungkin terwujud. “Stabilitas energi global, rantai pasok, dan keamanan kawasan bergantung pada penyelesaian yang adil. Ini bukan hanya kepentingan Palestina, tapi kepentingan kita bersama.”
Prabowo menambahkan, konflik bersenjata tidak lagi relevan dalam era di mana inovasi teknologi dan kolaborasi ilmiah menjadi kunci kemajuan. “Perang tidak membawa manfaat bagi siapa pun. Yang kita butuhkan adalah jembatan, bukan tembok.”
Kemitraan strategis komprehensif antara Indonesia dan Prancis, menurutnya, akan terus diperkuat melalui kerja sama nyata—bukan hanya pernyataan bersama, tetapi proyek bersama di bidang energi bersih, riset luar angkasa, dan pendidikan tinggi. “Kita akan lihat hasilnya dalam waktu dekat: lebih seimbang, lebih berdampak, dan lebih berkelanjutan.”
Dengan langkah-langkah ini, kedua negara tidak hanya memperdalam hubungan bilateral, tetapi juga menunjukkan bahwa kekuatan besar bukan hanya diukur dari senjata atau ekonomi, melainkan dari kemampuan untuk membangun perdamaian—bersama, secara konsisten, dan dengan integritas.

















