Home Berita Nasional Ibas: Patriotisme Ekonomi Dimulai dari Kepercayaan

Ibas: Patriotisme Ekonomi Dimulai dari Kepercayaan

Sumbawanews.com,- Jakarta — Wakil Ketua MPR RI dan Wakil Ketua Dewan Penasihat KADIN Indonesia, Edhie Baskoro Yudhoyono, mengajak pelaku pasar modal, investor, akademisi, dan generasi muda untuk membangun “patriotisme ekonomi” — sebuah gerakan yang tidak sekadar mengejar keuntungan, tetapi menjadikan investasi sebagai bentuk pengabdian pada masa depan bangsa. Dalam Diskusi Kebangsaan bertajuk *Membangun Patriotisme Ekonomi Melalui Etika, Integritas, dan Kepercayaan Publik* di Kompleks MPR RI, Kamis (4/6/2026), Ibas menegaskan bahwa modal terpenting sebuah negara bukanlah sumber daya alam atau jumlah dana, melainkan kepercayaan.

“Geoekonomi telah menggantikan geopolitik sebagai medan pertarungan utama. Bukan senjata yang menentukan kekuatan, tapi modal, data, dan kepercayaan,” ujar Ibas, mengutip realitas global yang kian berubah. Ia menekankan, kepercayaan adalah fondasi yang menentukan apakah investasi mengalir atau menghindar, apakah pasar stabil atau runtuh. “Ekonomi tidak berdiri di atas uang. Ia berdiri di atas kepercayaan. Ketika kepercayaan tumbuh, investasi datang. Ketika investasi datang, pertumbuhan mengalir.”

Ibas, yang juga lulusan S3 IPB dan S2 Nanyang Technological University, mengingatkan bahwa Indonesia memiliki semua elemen kunci untuk menjadi kekuatan ekonomi global: populasi muda yang produktif, pasar domestik terbesar di Asia Tenggara, sumber daya alam melimpah, dan ketahanan ekonomi yang terbukti mampu bertahan di tengah krisis. Namun, semua potensi ini akan sia-sia tanpa integritas sistemik.

“Pasar modal adalah cermin kepercayaan publik terhadap masa depan Indonesia. Kita telah melewati berbagai krisis — dari 1998 hingga 2008 dan 2020 — dan terus bangkit. Tapi jangan salah: kemajuan kita bukan karena keberuntungan, tapi karena ketahanan nilai-nilai dasar,” katanya. Ia menggarisbawahi bahwa kepercayaan tidak bisa dibangun lewat narasi semata, tapi harus dibuktikan lewat tata kelola yang transparan, kebijakan yang konsisten, dan integritas semua pemangku kepentingan.

Mengutip Warren Buffett, Ibas menekankan bahwa investasi adalah maraton, bukan sprint. “Yang menang bukan yang paling cepat, tapi yang paling sabar, paling memahami fundamental, dan paling disiplin.” Ia juga mengingatkan perbedaan mendasar antara investor dan spekulan, sebagaimana diajarkan Benjamin Graham: investor membangun nilai, spekulan hanya mengejar harga.

“Investor bukan sekadar pencari untung. Mereka adalah pemilik masa depan Indonesia,” tegasnya. “Trader menjaga likuiditas. Tapi investor membangun perusahaan, membiayai inovasi, menciptakan lapangan kerja. Tanpa etika, pasar kehilangan kepercayaan. Tanpa kepercayaan, pasar kehilangan masa depan.”

Ibas menyerukan kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat literasi keuangan, memperluas partisipasi investor domestik, dan memperbaiki tata kelola pasar modal. Ia menekankan bahwa kebijakan yang berubah-ubah, komunikasi publik yang kabur, dan ketidakpastian hukum justru menjadi ancaman terbesar, lebih berbahaya daripada fluktuasi IHSG atau nilai tukar rupiah.

Para peserta diskusi — dari kalangan akademisi, praktisi, dan investor — sepakat bahwa tantangan utama bukan pada volume transaksi, tapi pada persepsi. “Ketika regulasi berubah tanpa sosialisasi jelas, ketika kebijakan tidak konsisten antar kementerian, kepercayaan retak,” ujar Hillary Brigitta Lasut, anggota DPR yang hadir. Achmad menambahkan, kepastian hukum adalah fondasi kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan koperasi.

Wahyu Sanjaya dan Marwan Cik Asan menyoroti pentingnya percepatan pengesahan revisi UU Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK) sebagai instrumen strategis untuk memulihkan kepercayaan. Sementara Fathi menekankan perlunya komunikasi kebijakan yang lebih transparan dan terukur, agar persepsi pasar tidak terdistorsi oleh informasi yang tidak akurat.

Menutup diskusi, Ibas menyampaikan optimisme yang berbasis pada realitas: “Indonesia bukan bangsa yang hanya kaya sumber daya. Indonesia akan menjadi bangsa besar ketika kepercayaan menjadi budaya, integritas menjadi karakter, dan etika menjadi fondasi setiap keputusan ekonomi.” Ia menutup dengan seruan: “Dari investor menjadi pemilik, dari pemilik menjadi penggerak, dari penggerak menjadi pembangun masa depan Indonesia.”

Previous articlePrabowo Resmi Sahkan Perjanjian Kopi Internasional 2022
Next articleFahri Hamzah Ditagih Janji Pembentukan Provinsi Pulau Sumbawa, Masyarakat Minta Kepastian dari Pemerintah Pusat
Avatar photo
Kami adalah Jurnalis Jaringan Sumbawanews, individu idealis yang ingin membangun jurnalistik sehat berdasarkan UU No.40 Tahun 1999 tentang PERS, dan UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dalam menjalankan Tugas Jurnalistik, kami sangat menjunjung tinggi kaidah dan Kode Etik Jurnalistik, dengan Ethos Kerja, Koordinasi, Investigasi, dan Verifikasi sebelum mempublikasikan suatu artikel, opini, dan berita, sehingga menjadi suatu informasi yang akurat, baik dalam penulisan kata, maupun penggunaan tatabahasa.