Sumbawanews.com,- Pelaksana Tugas Direktur Intelijen Nasional Amerika Serikat, Bill Pulte, memulai langkah drastis dengan meminta daftar peringkat seluruh staf di Kantor Direktorat Intelijen Nasional (ODNI), memicu gelombang pemecatan massal yang mengguncang jantung sistem intelijen AS. Tidak ada pengumuman resmi, tidak ada konferensi pers—hanya perintah diam-diam yang mengalir melalui saluran birokrasi, memicu kekhawatiran mendalam di kalangan legislator dan pakar keamanan nasional.
ODNI, lembaga yang didirikan pasca-11 September 2001 untuk menyatukan 18 agensi intelijen yang selama ini berjalan terpisah dan saling curiga, kini menjadi sasaran reformasi yang berpotensi meruntuhkan fondasi keamanan nasional. Pulte, yang baru saja mengambil alih jabatan sementara setelah mundurnya Tulsi Gabbard, diketahui datang lebih awal dari jadwal dan langsung menggelar serangkaian pertemuan tertutup. Ia meminta setiap unit—termasuk Pusat Kontraterorisme Nasional (NCTC) dan Pusat Kontraintelijen—menyerahkan daftar kinerja pegawai paling lambat Senin lalu, sebagai dasar pemangkasan besar-besaran.
Langkah ini mengejutkan banyak pihak, terutama mengingat situasi global yang semakin rapuh: ketegangan dengan China, ancaman terorisme yang berubah bentuk, dan kekhawatiran akan intervensi asing yang semakin canggih. Di tengah ketidakpastian ini, pemangkasan ribuan staf profesional yang memiliki akses ke informasi paling sensitif justru dianggap sebagai langkah berisiko tinggi.
Senator Mark Warner dan anggota DPR Jim Himes, dua tokoh Demokrat yang memimpin komite intelijen, langsung mengirim surat peringatan kepada Pulte. Mereka menegaskan bahwa ODNI bukan sekadar kantor birokrasi—ia adalah benteng terakhir yang mencegah kegagalan koordinasi seperti yang terjadi sebelum serangan 9/11. “Mengurangi kapasitas intelijen di saat dunia paling membutuhkannya adalah keputusan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan,” tegas Warner dalam suratnya.
Kritik tidak hanya datang dari oposisi. Sejumlah mantan pejabat intelijen dari partai Republik juga menyuarakan kekhawatiran. Mereka menilai bahwa Pulte tampaknya lebih fokus pada “efisiensi administratif” daripada mempertahankan kapabilitas operasional. Beberapa sumber mengatakan, daftar pegawai yang akan diberhentikan tidak hanya mencakup staf administratif, tetapi juga analis kunci yang telah mengikuti jejak ancaman teroris selama lebih dari satu dekade.
Pertanyaan besar pun muncul: mengapa pemerintahan Donald Trump—yang sebelumnya menekankan “kekuatan militer dan intelijen” sebagai prioritas—memilih memangkas sumber daya di titik paling krusial? Beberapa analis menduga ini bagian dari upaya lebih luas untuk membersihkan birokrasi yang dianggap “tidak setia” atau terlalu “berhaluan liberal”. Laporan sebelumnya menyebut Trump telah memerintahkan pemberhentian pejabat tinggi di CIA dan Departemen Pertahanan yang dianggap menentang kebijakan luar negerinya, termasuk upaya perdamaian dengan Iran.
Namun, tanpa transparansi, tanpa penjelasan publik, dan tanpa konsultasi dengan Kongres, langkah ini berpotensi menciptakan kekosongan informasi yang jauh lebih berbahaya daripada kelebihan birokrasi. Di balik pintu-pintu tertutup ODNI, ratusan karier berakhir. Di luar sana, dunia menunggu—dan bertanya: siapa yang akan mendengar suara ancaman berikutnya, jika para pendengar utama sudah diberhentikan?















