Home Berita Internasional Gaza Hilang dari Peta: Kuburan, Sekolah, dan Desa Dihapus Perang

Gaza Hilang dari Peta: Kuburan, Sekolah, dan Desa Dihapus Perang

Sumbawanews.com,- Di tengah reruntuhan yang membentang hingga ke pantai, Muhannad Qishta, seorang jurnalis Palestina, berdiri di tengah tenda pengungsian di Khan Younis, memandang peta digital yang tak lagi menunjukkan makam kedua saudarinya—Reem dan Walaa. Tempat itu, Sheikh Mohammed Cemetery, kini telah berubah menjadi pos militer Israel. Tak ada batu nisan. Tak ada jejak tanah yang pernah menampung doa-doa keluarga. Hanya tenda-tenda tentara dan tank yang menggantikan keheningan makam.

Gambar satelit terbaru yang dirilis Google Earth pada Februari 2026 mengungkapkan kehancuran sistematis yang tak hanya menghapus bangunan, tetapi juga menghapus ingatan. Di seluruh Gaza Selatan, 94 persen pemakaman telah dihancurkan atau diubah menjadi basis militer, menurut laporan Euro-Med Human Rights Monitor. Di Rafah, kawasan Saudi di Tal as-Sultan—yang dulu menampung 752 unit rumah—telah berubah menjadi gundukan debu yang tak lagi bisa dikenali. Desa Swedia, sebuah komunitas pesisir yang dibangun pada 1965 dengan bantuan internasional untuk para pengungsi Palestina, kini hanya menyisakan lima rumah berdiri di antara reruntuhan. Tempat yang dulu dipenuhi perahu nelayan, kios-kios kecil, dan pusat komunitas yang diberikan oleh rakyat Swedia, kini menjadi zona militer tertutup.

Batas-batas kota pun lenyap. Jalan-jalan yang dulu menghubungkan rumah ke rumah kini hanya jejak samar di antara puing-puing. Pusat perbatasan Rafah—dulu satu-satunya jembatan kehidupan bagi 2,3 juta warga Gaza yang terkepung—telah dihancurkan. Ruang keberangkatan, terminal VIP, gudang bantuan kemanusiaan, dan kantor imigrasi digantikan oleh menara pengawas militer dan kawat berduri. Di timur Khan Younis, kawasan Bani Suhaila, Abasan, dan al-Zana—dulu pusat permukiman padat dengan ribuan keluarga multi-generasi—telah dihancurkan secara terencana untuk membuka jalur pasokan militer. Sebagian besar penduduknya terpaksa mengungsi ke kamp-kamp padat al-Mawasi, di tepi laut Mediterania, di mana tenda-tenda reyot berdesakan hingga menyentuh garis pantai.

Hamad City, proyek perumahan senilai $135 juta yang didanai Qatar dan menampung lebih dari 15.000 orang, kini hancur menjadi tumpukan beton. Tiga universitas besar—Universitas Islam Gaza, Universitas Al-Azhar, dan Universitas Al-Israa—telah dihancurkan dengan ledakan terkontrol. Lebih dari 97 persen sekolah di Gaza rusak atau hancur, membuat 658.000 anak tanpa pendidikan selama lebih dari dua tahun. Lahan pertanian yang dulu menjadi lumbung pangan Gaza—tempat tomat, jeruk, dan sayuran segar tumbuh subur—kini telah diratakan dengan buldoser. Hanya lima persen dari lahan pertanian yang masih bisa digunakan, menurut FAO. Di Shakoush, tanah subur bahkan diambil alih, memperdalam kelaparan yang sengaja diciptakan.

“Pemandangan mencari makanan itu kejam,” kata Ola Abu Moamer, jurnalis yang tinggal di kamp pengungsian. “Keluarga-keluarga pulang dengan panci kosong dari dapur umum, tanpa sebutir nasi pun.”

Lebih dari 1,9 juta dari 2,3 juta warga Gaza telah mengungsi—sebagian besar lebih dari sepuluh kali. Enam puluh persen kehilangan rumah selamanya. Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara terbuka menyatakan pada akhir Mei 2026 bahwa Israel telah menguasai 60 persen wilayah Gaza dan berniat memperluasnya hingga 70 persen. Meski ada gencatan senjata yang disepakati Oktober 2025, Israel terus melanggar kesepakatan itu: lebih dari 2.400 pelanggaran tercatat hingga April 2026, dengan laju serangan yang semakin meningkat sejak konflik Israel-Iran meletus pada Februari.

“Satelit bisa memotret bangunan yang runtuh,” kata Qishta, “tapi tak bisa menangkap rasa seorang ibu yang berjalan berulang kali ke rumah lamanya, hanya untuk menemukan tak ada lagi yang dikenalnya.”

Di bawah puing-puing itu, bukan hanya batu nisan dan jendela retak yang terkubur. Tapi juga masa depan, kenangan, dan harapan—yang dihapus bukan karena kecelakaan perang, tapi karena keputusan yang disengaja.

Previous articleBang Jago Diringkus Usai Palak Mobil Pelat B di Dago
Next articleHutan Sumsel Terbakar Luas, 182 Hektare Terpantau dalam Empat Bulan
Avatar photo
Jurnalis Jaringan Sumbawanews berkomitmen membangun jurnalistik sehat berlandaskan UU Pers No. 40/1999 dan UU KIP No. 14/2008. Kami menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik dengan mengedepankan koordinasi, investigasi, dan verifikasi untuk menjamin akurasi informasi, integritas penulisan, serta tata bahasa yang baik