Sumbawanews.com,- FIFA secara resmi meminta maaf kepada seluruh anggotanya atas rencana menjual saham Piala Dunia, sebuah langkah yang diakui sebagai kesalahan serius, namun tetap mempertahankan Gianni Infantino sebagai presiden hingga pemilihan berikutnya pada Maret 2027. Pernyataan itu dikeluarkan usai rapat darurat di Rabat, Maroko, pada Rabu (5/8/2026), yang dihadiri sejumlah eksekutif senior, dan disampaikan secara resmi pada Kamis (6/8/2026). Meski mengakui kegagalan komunikasi dan kekeliruan strategis, FIFA menegaskan bahwa semua tindakan yang diambil tetap sesuai peraturan internal, dan bahwa Sekretaris Jenderal Mattias Grafstrom serta dewan manajemen secara tegas menyatakan dukungan penuh terhadap Infantino.
Rencana pembentukan FIFA Forward Enterprise sebagai wadah untuk mengkomersialkan saham Piala Dunia langsung dicabut setelah bocor ke media dan memicu gelombang kritik dari federasi anggota, termasuk Yordania dan DFB Jerman. FIFA mengakui bahwa kebocoran itu merusak kepercayaan, dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahan serupa. Dalam pernyataan tertulis, organisasi itu menegaskan komitmen untuk memperbaiki tata kelola, meningkatkan transparansi, dan melindungi integritas organisasi dengan mengambil langkah tegas terhadap segala bentuk serangan terhadap prosedur yang berlaku.
Untuk menunjukkan soliditas kepemimpinan, Grafstrom muncul berdampingan dengan Infantino di laga Piala Afrika Wanita 2026 antara Malawi vs Zambia di Rabat, sebuah simbolik yang sengaja dirancang untuk meyakinkan publik bahwa FIFA tetap utuh di tengah badai kritik. Meski demikian, tekanan politik terus menghantam—UEFA dikabarkan masih aktif mencari calon alternatif yang bisa menantang Infantino dalam pemilihan presiden Maret 2027, sementara sejumlah tuan rumah Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat masih menuntut penyelesaian utang yang belum dibayar.
FIFA menyatakan telah mengambil pelajaran dari insiden ini dan berjanji akan merevisi proses pengambilan keputusan agar lebih inklusif dan akuntabel. Namun, pertanyaan besar tetap menggantung: apakah permintaan maaf ini cukup untuk memulihkan kepercayaan global, atau hanya menjadi langkah taktis untuk mempertahankan kursi presiden yang kian goyah?















