Sumbawanews.com,- Ferrari, merek yang selama delapan dekade menjadi simbol kemewahan, keganasan, dan keanggunan yang tak tergantikan, kini menghadapi kritik paling keras dalam sejarahnya. Peluncuran Luce — mobil listrik pertama mereka — bukan sekadar kegagalan desain; ini adalah kehilangan identitas.
Bukan hanya para penggemar yang kecewa, tetapi juga para ahli desain, pejabat Italia, bahkan mantan presiden Ferrari sendiri. Luca di Montezemolo menyebutnya sebagai ancaman terhadap “mitos” Prancing Horse, sementara Menteri Transportasi Italia Matteo Salvini menyebutnya “memalukan.” Di media sosial, mobil ini dijuluki sebagai “vacuum cleaner,” “Magic Mouse,” dan yang paling menyakitkan: “Nissan Leaf.”
Luce, dengan harga lebih dari 640 juta rupiah, memang menawarkan spesifikasi teknis yang mengesankan: empat motor, 1.035 tenaga kuda, dan jangkauan 500 kilometer. Tapi di luar angka-angka itu, ia kehilangan sesuatu yang jauh lebih penting — wajah Ferrari. Tidak ada agresivitas, tidak ada dinamika, tidak ada nyawa. Garis-garis yang dulu memukau dengan keanggunan aerodinamis khas Italia kini terasa datar, bahkan kaku, seolah dirancang oleh algoritma yang mencoba menggabungkan semua gaya tanpa memahami satu pun.
Desainnya menjadi sorotan utama karena dipimpin oleh LoveFrom, firma desain yang didirikan oleh Jony Ive dan Marc Newson — duo yang dikenal mempersembahkan iPhone sebagai karya seni fungsional. Tapi seperti yang diingatkan oleh Derek Jenkins dari Lucid, “Desain iPhone berhasil karena ia menghilang di tangan Anda. Ferrari tidak boleh menghilang — ia harus berteriak.” Dan Luce justru diam.
Kritik paling tajam datang dari Raphael Zammit, ketua desain transportasi di College for Creative Studies. “Ini bukan mobil sport, bukan mobil listrik kota, bukan juga mobil mewah. Ini adalah campuran acak yang kehilangan semua identitas.” Ia menambahkan, “Ini terasa seperti hasil rata-rata AI — kosong, tanpa jiwa.”
Interior Luce memang mendapat pujian untuk kesederhanaan dan integrasi analog-digitalnya. Tapi justru di situlah letak ironinya: interior yang cocok untuk Fiat 500 justru dipasang di tubuh mobil yang dijual dengan harga setara rumah mewah di Jakarta. “Mereka mengambil desain kelas atas, lalu menempatkannya di tempat yang salah,” kata Zammit.
Kemungkinan besar, Ferrari sedang bermain strategi besar: menarik pasar Tiongkok. Di sana, mobil listrik mewah dengan permukaan kaca luas dan desain minimalis sedang naik daun. Tapi seperti yang pernah dialami BMW dengan grille raksasanya, upaya menyesuaikan diri dengan satu pasar justru membuat basis pelanggan asli merasa dikhianati. “Ketika merek yang dibangun di atas emosi tiba-tiba berubah menjadi produk yang dihitung secara ekonomi, pelanggan merasakannya sebagai pengkhianatan pribadi,” ujar Stephanie Brinley dari S&P Global Mobility.
Meski saham Ferrari sempat anjlok hingga 8 persen setelah peluncuran, CEO Benedetto Vigna tetap bersikeras bahwa minat terhadap Luce “kuat,” terutama dari pelanggan baru. Dan memang, saham kembali pulih. Tapi di balik angka-angka pasar, ada yang lebih dalam yang tak bisa diukur dengan saham: kepercayaan.
Ferrari bukan sekadar mobil. Ia adalah simbol keberanian, kebanggaan, dan kegilaan. Ia adalah suara mesin V12 yang menggema di jalan-jalan Alpine, bukan keheningan listrik yang terasa seperti kantor korporat. Dengan menghapus suara itu, Ferrari kehilangan jantungnya — dan Luce, seindah apa pun spesifikasinya, hanyalah tubuh tanpa nyawa.
Tapi mungkin, justru karena kegagalan ini, orang-orang kini kembali mengingat apa yang membuat Ferrari hebat. Bukan karena harganya. Bukan karena teknologinya. Tapi karena ia pernah menjadi satu-satunya mobil yang membuat Anda berhenti, menatapnya, lalu berkata: “Saya ingin punya itu — bukan karena saya bisa, tapi karena saya merasa saya pantas.”















