Home Berita Internasional England Cari Jati Diri di Piala Dunia 2026

England Cari Jati Diri di Piala Dunia 2026

Sumbawanews.com,- Enam dekade telah berlalu sejak Inggris terakhir kali memenangkan Piala Dunia—1966, di rumah sendiri. Kini, di tengah harapan yang membara dan keraguan yang menggelayut, tim nasional “Three Lions” siap menghadapi tantangan terberatnya di Piala Dunia 2026, dengan pelatih Jerman Thomas Tuchel yang memilih jalan tak lazim: membangun tim berdasarkan kimia, bukan hanya bakat.

Meski lolos sebagai tim Eropa pertama yang mengamankan tiket ke turnamen, dengan delapan kemenangan sempurna dalam kualifikasi, performa Inggris dalam laga persahabatan belakangan justru menimbulkan tanda tanya. Suporter di Wembley memberikan sorotan dingin setelah kekalahan dari Senegal dan Jepang—tanda bahwa gaya bermain yang monoton dan lambat belum juga berubah, meski Tuchel telah menggantikan Gareth Southgate.

Tuchel membuat keputusan kontroversial: mengabaikan nama-nama besar seperti Phil Foden dan Cole Palmer, yang dianggap kurang konsisten musim ini, serta menyingkirkan Trent Alexander-Arnold dan Harry Maguire. Sebagai gantinya, ia memanggil Ivan Toney—penyerang yang jarang tampil untuk tim nasional—dan memasukkan pemain muda seperti Jarell Quansah dan Jordan Henderson, yang berusia 35 tahun, ke dalam skuad 26 orang. Sembilan pemain di dalamnya belum pernah tampil di turnamen besar. “Kami memilih tim yang menang, bukan kumpulan pemain paling berbakat,” tegas Tuchel. “Kimia adalah kunci.”

Namun, tantangan terbesar tetap pada kapten sekaligus pencetak gol terbanyak sepanjang masa: Harry Kane. Di usia 33, ia baru saja menyelesaikan musim terbaiknya—61 gol dalam 51 pertandingan bersama Bayern Munich, juara Bundesliga. Ia hanya butuh dua gol lagi untuk menyamai rekor Gary Lineker di Piala Dunia. Tapi, kekhawatiran tetap ada: apakah Kane akan tampil dalam kondisi prima, atau sekali lagi terjebak dalam bayang-bayang kelelahan dan cedera?

Di tengah kebingungan posisi, Jude Bellingham menjadi harapan utama. Pemain Real Madrid ini, meski mengalami musim yang kacau di klub, tetap menjadi satu-satunya pemain yang bisa menghubungkan lini tengah dengan serangan. Namun, dengan Declan Rice dan Elliot Anderson yang diandalkan sebagai gelandang bertahan, Bellingham mungkin harus bermain dari bangku cadangan—sebuah peran yang tak ideal untuk seorang pemain yang lahir untuk mengendalikan permainan.

Di sisi kiri, munculnya Nico O’Reilly, 21 tahun, sebagai alternatif bek kiri, menjadi sorotan baru. Pemain Manchester City ini, meski sering bermain sebagai gelandang, menunjukkan kemampuan bertahan yang menjanjikan dan ancaman ofensif yang langka—tujuh gol dan tiga assist di Premier League musim ini. Ia bisa jadi solusi atas kelemahan klasik Inggris: posisi bek kiri yang tak pernah stabil sejak Ashley Cole.

Grup L yang dihuni Inggris justru menjadi ujian berat. Pembukaan melawan Kroasia—tim yang mengalahkan mereka di semifinal 2018—akan jadi pertarungan psikologis. Panama, meski peringkat 33 dunia, baru saja mengalahkan Amerika Serikat di final Liga Nations CONCACAF. Sementara Ghana, meski dianggap underdog, memiliki kekuatan individu seperti Antoine Semenyo dan Mohammed Kudus yang bisa menghancurkan pertahanan yang kaku.

Dengan jadwal pertandingan yang berlangsung di Dallas, Boston, dan New York, Inggris memiliki keuntungan logistik—tapi bukan jaminan kesuksesan. Tuchel membawa tim ini dengan visi yang jelas: mengakhiri kutukan 60 tahun. Tapi apakah kimia bisa menggantikan kualitas? Apakah keberanian memilih pemain tak populer akan membuahkan trofi, atau justru memperdalam kegagalan?

Prediksi Al Jazeera: perempat final.

Mungkinkah “it’s coming home”?

Belum.

Tapi kali ini, Inggris tidak hanya berharap—mereka sedang berjuang.

Previous articleIran Tuntut Gencatan Senjata di Lebanon Sebelum Berunding dengan AS
Next articleMeta Luncurkan Langganan Premium untuk Instagram, Facebook, dan WhatsApp
Avatar photo
Jurnalis Jaringan Sumbawanews berkomitmen membangun jurnalistik sehat berlandaskan UU Pers No. 40/1999 dan UU KIP No. 14/2008. Kami menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik dengan mengedepankan koordinasi, investigasi, dan verifikasi untuk menjamin akurasi informasi, integritas penulisan, serta tata bahasa yang baik