Home Berita Berita Utama Iran Tuntut Gencatan Senjata di Lebanon Sebelum Berunding dengan AS

Iran Tuntut Gencatan Senjata di Lebanon Sebelum Berunding dengan AS

Sumbawanews.com,- Teheran menegaskan bahwa gencatan senjata di Lebanon bukan sekadar permintaan, tapi syarat mutlak sebelum Iran bersedia melanjutkan pembicaraan apa pun dengan Amerika Serikat. Pernyataan ini disampaikan dalam konteks memanasnya konflik di Timur Tengah, di mana Israel terus melancarkan serangan udara dan darat di wilayah selatan Lebanon—markas utama milisi Hizbullah, sekutu strategis Teheran.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menekankan dalam konferensi pers di ibu kota bahwa “setiap upaya mengakhiri perang harus dimulai dengan penghentian agresi terhadap Lebanon.” Ia menambahkan, Iran akan mengambil semua langkah yang diperlukan untuk mendukung perlawanan Lebanon melawan “agresi ilegal rezim Zionis.” Pernyataan ini muncul tepat setelah Israel mengklaim berhasil menguasai Kastil Beaufort, benteng bersejarah abad pertengahan yang menjadi titik strategis di perbatasan selatan Lebanon.

Sementara itu, kepala negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyoroti blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran sejak 13 April sebagai bukti nyata ketidakseriusan Washington dalam menjaga gencatan senjata. “Setiap pilihan memiliki harga. Dan tagihannya pasti akan datang,” tulis Ghalibaf dalam unggahan di platform X.

Ketegangan memuncak setelah Garda Revolusi Iran menyerang sebuah pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah—meski lokasi pastinya tidak diungkap—sebagai respons atas serangan AS terhadap menara telekomunikasi di kota pelabuhan selatan Iran. Baqaei menuduh Amerika telah melanggar gencatan senjata, sambil menegaskan bahwa Iran tidak mencari konsesi, melainkan pemenuhan hak-haknya: termasuk pelepasan aset-aset Iran yang dibekukan akibat sanksi AS.

Menariknya, isu program nuklir Iran—yang selama ini menjadi inti sengketa antara Teheran dan Washington—belum disentuh dalam pembicaraan terkini. “Belum ada negosiasi mengenai rincian nuklir. Prioritas kami sekarang adalah menghentikan perang,” tegas Baqaei. Ia menambahkan, pertukaran pesan antara kedua negara masih berlangsung, tetapi belum mencapai titik keputusan final. “Kami akan menentukan waktu yang tepat untuk penandatanganan, jika memang ada kesepakatan.”

Di tengah upaya diplomatik yang rapuh, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu justru memperkeruh suasana dengan pernyataan bahwa Israel akan melancarkan operasi militer yang lebih dalam lagi di Lebanon. Ia bahkan memamerkan penguasaan Kastil Beaufort sebagai simbol “penghancuran tembok ketakutan,” sebuah narasi yang langsung ditolak oleh Iran dan sekutunya sebagai bentuk provokasi militer yang tidak dapat diterima.

Dewan Keamanan PBB pun terpaksa menggelar pertemuan darurat pada hari yang sama, menanggapi eskalasi yang memperdalam kekhawatiran akan meledaknya konflik regional. Sementara itu, AS dan Iran terus berkomunikasi melalui saluran diplomatik tertutup—tapi tanpa tanda-tanda kompromi yang signifikan. Kedua belah pihak masih saling menuntut, saling menekan, dan saling mengancam.

Dalam situasi yang semakin sulit diprediksi, satu hal jelas: tanpa penghentian serangan di Lebanon, tidak akan ada pembicaraan serius antara Teheran dan Washington. Dan tanpa itu, perang bukan hanya kemungkinan—ia sudah berjalan, dengan harga yang semakin mahal.

Previous articleIndonesia Open Bangkitkan Ekosistem Bulu Tangkis Nasional
Next articleEngland Cari Jati Diri di Piala Dunia 2026
Avatar photo
Jurnalis Jaringan Sumbawanews berkomitmen membangun jurnalistik sehat berlandaskan UU Pers No. 40/1999 dan UU KIP No. 14/2008. Kami menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik dengan mengedepankan koordinasi, investigasi, dan verifikasi untuk menjamin akurasi informasi, integritas penulisan, serta tata bahasa yang baik