Sumbawanews.com,- Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperingatkan bahwa fenomena El Nino yang sedang berkembang berpotensi memicu gelombang panas, kekeringan parah, dan hujan ekstrem di berbagai belahan dunia. Dipicu oleh pemanasan suhu permukaan laut yang tidak biasa di kawasan ekuator Samudra Pasifik tengah dan timur, kondisi ini diperkirakan akan memperkuat ketidakstabilan cuaca global hingga akhir tahun.
El Nino, yang muncul secara alami setiap dua hingga tujuh tahun sekali dan berlangsung selama sembilan hingga 12 bulan, telah dikenal sebagai pengubah pola iklim global. Wilayah seperti Indonesia dan Australia berisiko mengalami kemarau panjang, sementara Amerika Selatan berpotensi dilanda banjir bandang. Menurut laporan WMO yang dirilis pada dasarian pertama Juni 2026, model iklim terkini menunjukkan bahwa El Nino kali ini berpeluang besar mencapai kategori kuat, bahkan bisa menjadi “super El Nino”—tingkat kekuatan yang belum pernah terjadi dalam beberapa dekade terakhir.
Sekretaris Jenderal WMO, Andre Celeste Saulo, menekankan bahwa dunia harus segera bersiap. “Fenomena ini tidak hanya memperburuk kekeringan, tetapi juga meningkatkan risiko gelombang panas laut dan darat yang bisa berdampak pada ketahanan pangan, kesehatan masyarakat, dan infrastruktur,” ujarnya.
Yang lebih mengkhawatirkan, penelitian dari Pusan National University di Korea Selatan memperkirakan bahwa frekuensi dan intensitas El Nino serta La Nina akan terus meningkat di masa depan. Dengan menggunakan simulasi komputer canggih, ilmuwan Axel Timmermann dan timnya menemukan bahwa perubahan iklim global telah menggeser pola alami ini, sehingga kejadian ekstrem kini lebih sering muncul dan menyebar lebih jauh—bahkan hingga memengaruhi pola cuaca di Samudra Atlantik dan Eropa.
“Ini bukan lagi siklus alam biasa. Ini adalah tanda bahwa sistem iklim kita sedang mengalami pergeseran struktural,” kata Timmermann, dikutip dari *New Scientist*. Studi tersebut memperingatkan bahwa jika tren pemanasan laut berlanjut, generasi mendatang akan menghadapi musim kemarau yang lebih panjang, banjir yang lebih dahsyat, dan ketidakpastian cuaca yang tak terduga.
Di Indonesia, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah memprediksi penurunan curah hujan signifikan mulai bulan ini, yang berpotensi mengganggu produksi pertanian dan ketersediaan air bersih. BMKG pun mengingatkan masyarakat untuk memperkuat kesiapsiagaan, terutama di wilayah rawan kekeringan seperti Jawa Barat dan Nusa Tenggara.
Dengan kekuatan El Nino yang diprediksi semakin ganas, para ahli menyerukan aksi kolaboratif global: dari pemantauan cuaca yang lebih akurat hingga kebijakan adaptasi iklim yang berbasis sains. Tanpa langkah proaktif, dampaknya bukan sekadar cuaca buruk—tapi krisis multidimensi yang mengancam stabilitas sosial dan ekonomi.

















