Home Berita Olah Raga Eduard Ivakdalam, Maestro Persipura yang Kini Jadi ASN di Papua

Eduard Ivakdalam, Maestro Persipura yang Kini Jadi ASN di Papua

Sumbawanews.com,- Setelah mengukir sejarah sebagai jantung serangan Persipura Jayapura selama 16 tahun, Eduard Ivakdalam kini menjalani babak baru kehidupan sebagai aparatur sipil negara di tanah kelahirannya, Papua. Pemain legendaris yang pernah memimpin Mutiara Hitam meraih tiga gelar Liga Indonesia dan Community Shield, serta membawa tim asal Papua pertama kali tampil di ajang Asia, kini berkhidmat di birokrasi pemerintah daerah—tanpa meninggalkan cinta pada sepak bola.

Lahir di Merauke pada 19 Desember 1974, Ivakdalam memulai karier di PS Merauke pada usia 16 tahun. Bakatnya yang cemerlang langsung menarik perhatian Persipura, yang merekrutnya pada awal era profesional Liga Indonesia tahun 1994. Dari sanalah dimulai perjalanan ikonik: ia tak pernah berpindah klub, menjadi kapten tim, dan menjadi simbol loyalitas di tengah gempuran arus transfer pemain. Dengan 218 penampilan dan 21 gol, ia bukan sekadar pemain, tapi simbol identitas sepak bola Papua.

Di bawah kendalinya, Persipura merajai kompetisi nasional pada era 2000-an, mengalahkan klub-klub besar dari Jawa dan Sumatra. Ia pula yang membawa tim ke kancah Asia, memperkenalkan nama Papua di pentas kontinental. Tak hanya itu, Ivakdalam juga pernah dipanggil memperkuat Timnas Indonesia pada akhir dekade 1990-an, bermain di Piala AFF dan SEA Games, meski perannya sering terabaikan dalam narasi sejarah sepak bola nasional.

Pensiun dari lapangan hijau pada 2014, ia tak menghilang dari dunia sepak bola. Ia tetap aktif di akademi pemuda, menjadi pelatih, dan menjadi inspirasi bagi generasi muda Papua. Namun, pada tahun-tahun terakhir, ia memilih jalan lain: mendaftar sebagai ASN. Kini, ia bekerja di salah satu instansi pemerintah di Jayapura, mengabdikan diri untuk pembangunan daerah—dengan ketenangan yang sama seperti saat ia mengatur tempo permainan di tengah lapangan.

Kehilangan Persipura dari puncak liga setelah masa keemasannya, tak membuat Ivakdalam berkecil hati. Ia memilih membangun masa depan bukan hanya untuk dirinya, tapi juga untuk generasi yang akan datang. “Sepak bola mengajarkan saya disiplin, kerja keras, dan tanggung jawab. Itu yang saya bawa ke kantor,” ujarnya dalam wawancara terbatas beberapa waktu lalu.

Di tengah hiruk-pikuk transfer pemain dan euforia turnamen internasional, nama Eduard Ivakdalam mungkin tak lagi sering disebut. Tapi di Papua, ia tetap legenda—bukan hanya karena trofi, tapi karena memilih untuk tetap berada di tengah masyarakat, bukan di atas podium.

Previous article363 Laga Membara Buka Kejuaraan Pencak Silat Piala Presiden 2026
Next articleAfrika Selatan Catat Sejarah, Lolos ke 32 Besar Piala Dunia untuk Pertama Kalinya