Home Berita Internasional Bruce Springsteen Diancam Bunuh Usai Kritik Trump

Bruce Springsteen Diancam Bunuh Usai Kritik Trump

Sumbawanews.com,- FBI dan aparat keamanan AS tengah mengawasi ketat situasi pasca-legenda rock Bruce Springsteen menjadi sasaran ancaman pembunuhan beruntun. Ancaman itu meledak setelah musisi berusia 75 tahun itu secara terbuka mengecam kebijakan Presiden Donald Trump, terutama terkait perang di Iran dan penegakan imigrasi oleh ICE.

Dalam konser pembuka tur “Land of Hope and Dreams” di Minneapolis pada 31 Maret lalu, Springsteen menyebut pemerintahan Trump sebagai “korup, tidak kompeten, rasis, sembrono, dan khianat.” Ia menyerukan penonton untuk memilih “harapan daripada ketakutan, demokrasi daripada otoritarianisme, serta perdamaian daripada perang.” Pernyataan itu memicu kemarahan keras dari kalangan pendukung gerakan MAGA, yang langsung membalas dengan ancaman fisik—mulai dari pesan berisi kata-kata kasar hingga ancaman pembunuhan yang terdeteksi oleh sistem keamanan.

Gitaris sekaligus rekan lama Springsteen, Steven Van Zandt, mengonfirmasi bahwa tingkat keamanan dalam tur kali ini dinaikkan signifikan. “Biasanya memang selalu ada ancaman, tapi kali ini jumlahnya melonjak. Ini bukan lagi sekadar omongan kosong,” ujar Van Zandt kepada Daily Mail. Ia menambahkan, FBI dan lembaga keamanan lainnya kini memantau setiap jejak digital dan fisik yang mengarah pada Springsteen dengan tingkat kekhawatiran yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Hubungan tegang antara Springsteen dan Trump bukan hal baru. Selama bertahun-tahun, keduanya saling serang lewat media. Springsteen pernah menyebut Trump sebagai “korup dan tidak kompeten,” sementara sang presiden membalas dengan menyebut musisi itu “idiot yang mengganggu.” Pada awal 2026, Springsteen bahkan merilis lagu protes berjudul “Streets of Minneapolis,” yang secara tajam menyerang kebijakan imigrasi ICE dan menuding penasihat Trump, Stephen Miller, serta mantan Menteri Keamanan Dalam Negeri Kristi Noem sebagai arsitek kekejaman sistemik.

Tur yang rencananya berakhir di Philadelphia pada 30 Mei ini kini bukan sekadar rangkaian konser musik—tapi menjadi simbol perlawanan budaya di tengah polarisasi politik AS yang semakin dalam. Di tengah gelombang kebencian yang mengancam nyawa, Springsteen tetap berdiri di panggung, suaranya menggema sebagai benteng terakhir kebebasan berekspresi di tengah kekacauan.

FBI belum mengonfirmasi jumlah pasti ancaman yang diterima, tetapi sumber yang dekat dengan penyelidikan mengatakan, “Ini adalah salah satu kasus ancaman terhadap artis paling serius yang pernah kami tangani dalam dekade terakhir.”

Previous article**Puan Maharani Ajak Umat Rajut Kebersamaan di Iduladha**
Next articleIsrael Perparas Serangan Hebat di Lebanon, 31 Tewas
Avatar photo
Kami adalah Jurnalis Jaringan Sumbawanews, individu idealis yang ingin membangun jurnalistik sehat berdasarkan UU No.40 Tahun 1999 tentang PERS, dan UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dalam menjalankan Tugas Jurnalistik, kami sangat menjunjung tinggi kaidah dan Kode Etik Jurnalistik, dengan Ethos Kerja, Koordinasi, Investigasi, dan Verifikasi sebelum mempublikasikan suatu artikel, opini, dan berita, sehingga menjadi suatu informasi yang akurat, baik dalam penulisan kata, maupun penggunaan tatabahasa.