Sumbawanews.com,- Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan bahwa kelompok BRICS kini menjadi kekuatan ekonomi utama dunia, mengungguli G7 dalam kontribusi terhadap pertumbuhan dan produk domestik bruto global. Pernyataan itu disampaikannya dalam pidato pembukaan St. Petersburg International Economic Forum (SPIEF) 2026, di hadapan ratusan pemimpin bisnis, pejabat pemerintah, dan pakar dari lebih dari 130 negara.
Menurut Putin, berdasarkan data purchasing power parity (PPP), BRICS—yang terdiri dari Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan—kini menguasai sekitar 40 persen PDB dunia, melebihi G7 yang hanya menyumbang kurang dari 29 persen. “BRICS telah melampaui G7 sejak 2020, dan kesenjangan ini terus melebar,” tegasnya.
Lebih jauh, ia menunjukkan bahwa hampir 49 persen pertumbuhan ekonomi global dalam lima tahun terakhir berasal dari negara-negara BRICS, sementara kontribusi G7 hanya sekitar 18 persen. Proyeksi dari Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) pun mendukung tren ini, dengan prediksi pertumbuhan tahunan BRICS di atas 4 persen, jauh di atas angka 1,1 persen yang diprediksi untuk G7.
Putin menekankan bahwa perdagangan antaranggota BRICS telah menembus angka 1 triliun dolar AS per tahun. Dalam dua dekade terakhir, pangsa BRICS dalam ekspor barang global meningkat lebih dari dua kali lipat, dan kini menyumbang hampir 25 persen dari total perdagangan dunia.
Namun, yang paling menonjol dalam pidatonya adalah kritik tajam terhadap sistem keuangan global yang dipandangnya sebagai alat tekanan politik. “Sistem yang diklaim netral dan universal justru sering digunakan untuk menghukum negara-negara yang tidak sejalan dengan kepentingan Barat,” ujarnya. Ia menyinggung pembekuan aset devisa Rusia di luar negeri sebagai bentuk “pencurian sistemik” yang melanggar hukum internasional.
Dalam respons terhadap tekanan ini, Putin mengumumkan bahwa sekitar 65 persen ekspor Rusia kini dilakukan dalam mata uang lokal—rubel—dan negara-negara BRICS secara aktif mengembangkan sistem pembayaran alternatif, memperkuat penggunaan mata uang nasional, serta mempercepat adopsi mata uang digital bank sentral (CBDC).
“Kami tidak ingin mengganti sistem lama dengan sistem baru yang sama. Kami ingin membangun sistem yang adil, beragam, dan bebas dari tekanan politik,” kata Putin, menegaskan bahwa dunia sedang memasuki era multipolar, di mana kekuatan ekonomi tidak lagi terpusat di Atlantik Utara.
SPIEF 2026, yang dihadiri para pemimpin dari Asia, Afrika, Amerika Latin, dan Timur Tengah, menjadi panggung bagi Putin untuk menawarkan visi ekonomi alternatif—bukan hanya sebagai respons terhadap sanksi, tetapi sebagai fondasi baru tatanan global yang lebih inklusif. Dengan BRICS yang terus berkembang dan menarik minat negara-negara non-Barat, kata Putin, “dunia tidak lagi punya satu pusat, tapi banyak pusat—dan itu adalah masa depan yang tak bisa diabaikan.”















